Mengulas Situs Kota Cina di Medan, pelabuhan kuno yang menjadi pusat perdagangan internasional Nusantara pada abad ke-11 hingga ke-14. Simak sejarah penemuan, artefak, dan perannya dalam jalur maritim Asia.
Situs Kota Cina Medan: Pelabuhan Kuno yang Menghubungkan Nusantara dengan Dunia
Ketika membahas sejarah perdagangan Nusantara, perhatian sering kali tertuju pada pelabuhan-pelabuhan besar seperti Malaka, Aceh, Banten, atau Makassar. Padahal, jauh sebelum Kota Medan berkembang menjadi pusat ekonomi di Sumatera Utara, kawasan pesisir timurnya telah menjadi simpul perdagangan internasional yang ramai dikunjungi para saudagar dari berbagai penjuru Asia. Jejak kejayaan tersebut kini dikenal sebagai Situs Kota Cina, sebuah kawasan arkeologi yang menyimpan bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi pelabuhan penting pada abad ke-11 hingga ke-14 Masehi.
Nama “Kota Cina” sering menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah kawasan ini merupakan permukiman yang hanya dihuni masyarakat Tionghoa. Padahal, hasil penelitian menunjukkan bahwa situs ini merupakan kawasan multikultural yang dihuni oleh berbagai komunitas pedagang dari Nusantara, India, Sri Lanka, Tiongkok, hingga kawasan Timur Tengah. Letaknya yang strategis di pesisir timur Sumatra menjadikan kawasan ini sebagai tempat bertemunya kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia pada masa itu.
Penemuan Situs Kota Cina memberikan pemahaman baru bahwa Sumatera Utara telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Lebih dari sekadar pusat niaga, kawasan ini mencerminkan bagaimana interaksi ekonomi mampu melahirkan pertemuan budaya, agama, teknologi, dan tradisi yang membentuk identitas Nusantara.
Berawal dari Temuan Artefak yang Mengundang Perhatian
Keberadaan Situs Kota Cina mulai menarik perhatian para peneliti pada paruh kedua abad ke-20 ketika masyarakat setempat menemukan berbagai benda kuno di kawasan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan. Penemuan arca, pecahan keramik, dan artefak lainnya mendorong dilakukannya penelitian arkeologi secara lebih sistematis. Sejak saat itu, berbagai ekskavasi berhasil mengungkap bahwa kawasan tersebut merupakan bekas permukiman sekaligus pelabuhan kuno yang pernah berkembang selama beberapa abad.
Lokasi situs berada di antara aliran Sungai Deli dan Sungai Belawan yang bermuara ke Selat Malaka. Posisi geografis ini sangat menguntungkan karena memungkinkan kapal-kapal dagang berlabuh dengan mudah sekaligus memudahkan distribusi barang ke wilayah pedalaman Sumatra. Para arkeolog meyakini bahwa faktor inilah yang menjadikan Kota Cina berkembang sebagai pusat perdagangan penting pada masanya.
Pelabuhan Internasional di Pesisir Timur Sumatra
Pada abad ke-11 hingga ke-14, Selat Malaka telah menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan India, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Kapal-kapal yang membawa rempah-rempah, kain, keramik, logam, hingga hasil hutan singgah di berbagai pelabuhan sepanjang jalur tersebut.
Situs Kota Cina menjadi salah satu simpul penting dalam jaringan perdagangan tersebut. Berbagai temuan menunjukkan bahwa kawasan ini menerima barang dari banyak wilayah sekaligus menjadi tempat distribusi komoditas Nusantara ke pasar internasional. Bahkan sejumlah peneliti mengaitkan perkembangan Kota Cina dengan jaringan pedagang Tamil dari India Selatan yang aktif berdagang di Asia Tenggara pada masa itu.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa masyarakat pesisir Sumatra telah memiliki kemampuan membangun hubungan dagang lintas negara jauh sebelum lahirnya kota-kota modern.
Ribuan Artefak Menjadi Bukti Perdagangan Dunia
Nilai penting Situs Kota Cina tidak hanya berasal dari lokasinya, tetapi juga dari ribuan artefak yang berhasil ditemukan selama proses ekskavasi.
Para arkeolog menemukan keramik dari Dinasti Song dan Dinasti Yuan di Tiongkok, gerabah dari Asia Tenggara, manik-manik, uang logam, pecahan kaca, perhiasan, alat logam, hingga sisa-sisa aktivitas pertukangan. Selain itu ditemukan pula arca bergaya Hindu dan Buddha yang menunjukkan berkembangnya kehidupan keagamaan di kawasan tersebut.
Keberagaman artefak tersebut membuktikan bahwa Kota Cina merupakan kawasan multietnis yang dihuni berbagai komunitas dengan latar belakang budaya berbeda. Interaksi mereka tidak hanya menghasilkan pertukaran barang, tetapi juga memperkaya perkembangan budaya di wilayah pesisir timur Sumatra.
Jejak Kehidupan yang Lebih dari Sekadar Pelabuhan
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Situs Kota Cina bukan hanya tempat kapal berlabuh. Di kawasan ini juga ditemukan sisa bangunan bata yang diduga merupakan tempat ibadah, area permukiman, bengkel pengolahan logam, serta berbagai fasilitas pendukung kehidupan masyarakat.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Kota Cina merupakan sebuah kota pelabuhan yang hidup, tempat para pedagang, pengrajin, pelaut, dan masyarakat lokal menjalankan aktivitas ekonomi maupun sosial setiap hari.