Edukasi & Literasi Budaya Kearifan Lokal Warisan Budaya Warisan Sejarah

Roah Pesisi Sambelia: Tradisi Syukur Nelayan yang Memberi Waktu Laut untuk Pulih

Roah Pesisi Sambelia adalah tradisi masyarakat nelayan Desa Sugian, Lombok Timur, yang memadukan rasa syukur, doa keselamatan, kebersamaan, dan kearifan menjaga laut.

Roah Pesisi Sambelia: Tradisi Syukur Nelayan yang Memberi Waktu Laut untuk Pulih

Indonesia memiliki banyak tradisi masyarakat pesisir yang lahir dari hubungan panjang antara manusia dan laut. Bagi masyarakat nelayan, laut bukan hanya tempat mencari ikan. Laut merupakan ruang kehidupan, sumber penghasilan, jalur perjalanan, sekaligus bagian penting dari cara masyarakat memahami hubungan mereka dengan alam secara menyeluruh. Salah satu tradisi yang memperlihatkan hubungan erat tersebut adalah Roah Pesisi di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Tradisi ini merupakan upacara selamatan laut yang dilakukan oleh masyarakat nelayan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur yang mendalam atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Tuhan, sekaligus sebagai sarana memohon doa agar para nelayan senantiasa memperoleh keselamatan ketika menjalankan aktivitas mencari nafkah di tengah lautan luas. Pada tahun 2026, tradisi Roah Pesisi kembali dilaksanakan secara meriah dalam rangkaian Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia. Namun, di balik kemeriahan festival tersebut, terdapat satu bagian dari tradisi ini yang sangat menarik untuk diperhatikan secara khusus, yaitu setelah ritual berlangsung, masyarakat menerapkan aturan adat bahwa tidak seorang pun diperbolehkan melakukan aktivitas di laut selama tiga hari berturut-turut. Larangan tersebut mencakup kegiatan menangkap ikan di perairan maupun memancing di tepi pantai. Bagi masyarakat setempat, jeda waktu tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang sangat penting untuk memberikan kesempatan bagi lingkungan ekosistem laut beristirahat dan memulihkan diri.

Mengenal Roah Pesisi dari Sambelia

Roah Pesisi merupakan tradisi turun-temurun masyarakat pesisir Desa Sugian yang berkaitan erat dengan denyut kehidupan para nelayan sehari-hari. Tradisi ini dilaksanakan secara berkala dan dalam setiap pelaksanaannya selalu melibatkan seluruh elemen masyarakat secara bersama-sama dalam semangat gotong royong. Berdasarkan keterangan panitia pelaksana yang diberitakan pada tahun 2026, ritual adat tersebut telah diselenggarakan sekitar sepuluh kali dan rutin diadakan setiap dua tahun sekali pada awal bulan Agustus. Pelaksanaan tradisi ini merupakan hasil kesepakatan bersama dari seluruh warga Kecamatan Sambelia, terutama dari kalangan nelayan yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Rangkaian kegiatan dalam tradisi ini tidak hanya berpusat pada ritual sakral di laut semata, melainkan juga berkembang menjadi sebuah festival yang menghadirkan berbagai kegiatan sosial, pelestarian budaya, kompetisi olahraga, edukasi lingkungan, hingga hiburan rakyat bagi masyarakat luas. Hal tersebut membuat tradisi Roah Pesisi memiliki dua sisi fungsi sekaligus dalam kehidupan bermasyarakat. Di satu sisi, ia tetap menjadi sebuah tradisi adat sakral yang memiliki makna spiritual mendalam bagi warga setempat. Di sisi lain, kegiatan tersebut berkembang secara positif menjadi ruang pertemuan warga serta sarana pengenalan budaya pesisir kepada para pengunjung dan khalayak yang datang dari luar daerah.

Rasa Syukur kepada Tuhan

Inti utama dari penyelenggaraan tradisi Roah Pesisi berkaitan erat dengan rasa syukur masyarakat nelayan atas limpahan hasil laut yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Dalam dinamika kehidupan masyarakat pesisir, tingkat keberhasilan saat melaut sangat dipengaruhi oleh kondisi alam yang sering kali tidak menentu. Hasil tangkapan ikan di laut tidak selalu dapat dipastikan jumlahnya setiap hari. Faktor cuaca yang ekstrem, gelombang tinggi, pergantian musim, serta kondisi perairan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi oleh nelayan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, rasa syukur memiliki tempat yang sangat penting dan sakral dalam tradisi masyarakat setempat. Pada pelaksanaan Roah Pesisi tahun 2026, masyarakat mengawali seluruh rangkaian kegiatan dengan memanjatkan doa bersama terlebih dahulu sebelum rombongan perahu bergerak menuju kawasan perairan di sekitar Gili Sulat dan Gili Lawang. Ritual doa bersama tersebut juga menjadi sarana spiritual yang penting untuk memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat yang menggantungkan nasib dan kehidupannya pada kekayaan laut. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup sehari-hari di alam terbuka dapat membentuk suatu kebudayaan yang luhur. Laut yang selama ini menjadi tempat mencari nafkah kemudian hadir pula secara simbolis di dalam bentuk ritual keagamaan, doa bersama, dan berbagai kegiatan komunal lainnya.

Perahu-Perahu yang Mengiringi Ritual

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian dari rangkaian Roah Pesisi adalah arak-arakan puluhan perahu nelayan yang berhias meriah. Pada pelaksanaan tahun 2026, tercatat ada sekitar lima puluh sampan dan perahu tradisional yang mengikuti prosesi pelayaran di perairan sekitar Gili Sulat dan Gili Lawang. Perahu-perahu nelayan tersebut bergerak secara beriringan mengawal prosesi utama dan melakukan tradisi tiga kali putaran di sekitar titik koordinat yang telah ditentukan oleh tokoh adat sebelum ritual pelarungan resmi dilaksanakan. Berdasarkan catatan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah perahu nelayan yang berpartisipasi dalam arak-arakan tersebut bahkan dapat mencapai lebih dari seratus perahu atau lebih banyak lagi tergantung pada situasi yang ada. Kondisi perekonomian masyarakat serta musim tangkapan turut memengaruhi jumlah partisipan perahu pada tahun 2026. Meskipun demikian, berkurangnya jumlah perahu yang ikut serta sama sekali tidak mengurangi esensi maupun inti dari pelaksanaan tradisi sakral tersebut. Kehadiran antusias para nelayan dan warga tetap menunjukkan secara nyata bahwa Roah Pesisi merupakan kegiatan komunal yang bersifat kolektif. Tradisi tersebut bukanlah milik satu individu atau satu keluarga saja, melainkan bagian dari identitas dan ikatan kehidupan bersama seluruh warga masyarakat pesisir.

Iringan Gendang Beleq

Kemeriahan dan ke khidmatan pelaksanaan Roah Pesisi juga tidak dapat dipisahkan dari kehadiran kesenian musik tradisional khas masyarakat Lombok. Dalam prosesi tahun 2026, arak-arakan perahu diiringi oleh tabuhan musik tradisional Gendang Beleq yang bergemuruh dinamis. Suara dentuman alat musik tradisional tersebut menambah nuansa magis dan khas ketika rombongan perahu masyarakat bergerak menuju kawasan perairan terbuka untuk menjalankan prosesi inti. Kesenian Gendang Beleq sendiri merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki kedudukan sangat kuat dalam identitas budaya masyarakat Lombok secara luas. Kehadiran Gendang Beleq di tengah tradisi Roah Pesisi menunjukkan bahwa sebuah tradisi adat dapat menjadi ruang perjumpaan yang harmonis bagi berbagai unsur kebudayaan lokal. Di dalam satu acara yang sama, terdapat perpaduan antara ritual adat, alunan musik tradisional, keterlibatan perahu nelayan, pelaksanaan doa bersama, serta partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Kesemua unsur tersebut berpadu membentuk satu rangkaian kegiatan utuh yang menjadikan tradisi pesisir ini tidak sekadar menjadi acara seremonial tahunan belaka, melainkan sebuah perayaan kebudayaan yang hidup dan bernyawa.

Prosesi Pelarungan di Tengah Laut

Bagian dari rangkaian Roah Pesisi yang paling dikenal luas oleh masyarakat dan pengunjung adalah prosesi pelarungan sesaji ke tengah lautan lepas. Pada pelaksanaan tahun 2026, masyarakat Desa Sugian menggunakan kepala sapi sebagai sarana dalam prosesi pelarungan tersebut. Pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, masyarakat secara tradisi menggunakan kepala kerbau dalam rangkaian ritual pelarungan. Perubahan jenis hewan yang digunakan ini menjadi bagian catatan khusus dari dinamika pelaksanaan Roah Pesisi pada tahun 2026. Titik lokasi pelarungan sesaji di tengah laut juga tidak pernah ditentukan secara sembarangan oleh warga. Dalam setiap pelaksanaannya, lokasi yang tepat dipilih dan ditentukan oleh seorang Sandro, yaitu tokoh adat setempat yang memiliki otoritas dan peran penting dalam memimpin jalannya prosesi ritual adat tersebut. Meskipun titik koordinat pelarungan dapat berbeda pada setiap tahun penyelenggaraan, kawasan perairan di sekitar Gili Sulat dan Gili Lawang tetap menjadi wilayah utama yang disepakati bersama untuk melaksanakan ritual sakral tersebut. Bagi masyarakat yang meyakini dan menjalankan tradisi ini, prosesi pelarungan merupakan bentuk nyata dari ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, bagian ritual tersebut harus dipahami secara utuh dalam konteks sistem kebudayaan masyarakat setempat, dan bukan semata-mata dinilai dari bentuk fisik ritualnya saja.

Tiga Hari Tanpa Aktivitas di Laut

Bagian yang paling menarik dan sarat makna dari pelaksanaan Roah Pesisi justru muncul pada masa setelah seluruh rangkaian ritual adat selesai dilaksanakan. Masyarakat Desa Sugian secara disiplin menerapkan aturan adat yang melarang seluruh warga melakukan segala bentuk aktivitas di laut selama tiga hari penuh setelah ritual usai. Selama kurun waktu tersebut, para nelayan dilarang keras untuk melaut dan segala kegiatan menangkap ikan dihentikan sementara waktu. Setelah masa tiga hari larangan tersebut berlalu, barulah kegiatan mencari ikan dan aktivitas ekonomi di laut dapat kembali dilakukan seperti sediakala. Aturan adat yang tegas ini memperlihatkan adanya pengetahuan lokal yang sangat tinggi mengenai pentingnya memberikan waktu istirahat bagi ekosistem laut. Berdasarkan wawancara dengan pihak panitia yang diberitakan oleh berbagai media pada tahun 2026, masa jeda selama tiga hari tersebut dipandang secara filosofis sebagai waktu yang diberikan kepada alam dan ekosistem perairan untuk memulihkan diri dari tekanan eksploitasi manusia. Nilai konservasi tradisional ini diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi oleh para leluhur dan terbukti masih dijalankan dengan penuh kesadaran oleh masyarakat hingga hari ini. Di sinilah letak daya tarik utama tradisi Roah Pesisi bagi pembahasan mengenai pentingnya kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Tradisi ini membuktikan bahwa upacara adat tidak hanya berhenti pada ritual doa dan rasa syukur semata, melainkan di dalamnya terdapat aturan sosial yang sangat bijak dalam mengatur hubungan harmonis antara manusia dengan sumber daya alam.

Ketika Adat Bertemu Konservasi

Praktik konservasi lingkungan sering kali dibicarakan dalam diskursus modern menggunakan bahasa ilmiah yang rumit, seperti konsep keberlanjutan ekosistem, pengelolaan sumber daya alam yang rasional, atau pemulihan lingkungan yang terdegradasi. Namun, jauh sebelum ilmu pengetahuan modern merumuskan konsep tersebut, masyarakat tradisional telah memiliki cara bijak tersendiri untuk menjaga keseimbangan alam di wilayah tempat tinggal mereka. Melalui tradisi Roah Pesisi, aturan adat untuk tidak melaut selama tiga hari menjadi salah satu contoh nyata tentang bagaimana ketentuan hukum adat mampu mengatur aktivitas manusia agar selaras dengan pelestarian lingkungan. Tentu saja, aturan tradisional tersebut tidak dapat langsung disamakan secara kaku dengan seluruh instrumen pengelolaan ekosistem modern yang kompleks. Akan tetapi, jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan dan sosiologi, praktik tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang mendalam di tengah masyarakat bahwa laut tidak boleh terus-menerus dieksploitasi tanpa mengenal batas dan jeda waktu. Melalui tradisi ini, laut seolah diberikan kesempatan untuk bernapas dan kembali tenang dari hiruk-pikuk aktivitas penangkapan ikan. Di sisi lain, masyarakat nelayan juga memperoleh waktu rehat sejenak dari rutinitas berat melaut untuk berkumpul bersama keluarga di daratan. Dengan demikian, tradisi adat pada akhirnya berfungsi sebagai ruang pengingat yang efektif mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup manusia demi kelangsungan jangka panjang alam semesta.

Nilai Kebersamaan dalam Roah Pesisi

Selain aspek pelestarian lingkungan dan spiritualitas, tradisi Roah Pesisi juga menyimpan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang sangat kuat dan mengakar. Pelaksanaan tradisi ini melibatkan kerja sama yang erat antara para nelayan, tokoh adat, pemerintah desa, serta berbagai kelompok masyarakat lainnya tanpa terkecuali. Segala tahapan persiapan kegiatan dilakukan secara bergotong royong oleh warga, begitu pula dengan pelaksanaan doa bersama, penyiapan arak-arakan perahu, hingga berbagai kegiatan pendukung festival lainnya. Dalam realitas kehidupan masyarakat pesisir sehari-hari, semangat kebersamaan merupakan elemen yang sangat krusial karena aktivitas melaut itu sendiri sering kali berkaitan erat dengan bentuk kerja kolektif yang membutuhkan kekompakan. Mulai dari pengelolaan perahu, perawatan alat tangkap ikan, pembagian hasil tangkapan, hingga upaya menjaga keselamatan di tengah laut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam kehidupan komunal. Melalui penyelenggaraan tradisi tahunan ini, ikatan hubungan sosial antarwarga kembali diperkuat dan disegarkan kembali. Masyarakat dari berbagai kalangan dapat berkumpul di ruang publik bukan hanya sekadar untuk menjalankan ritual keagamaan, melainkan juga untuk mempererat tali silaturahmi, merawat kerukunan, dan memperkuat solidaritas antarsesama warga desa.

Tradisi yang Berjalan Bersama Generasi Muda

Keberlanjutan hidup sebuah tradisi budaya di tengah arus zaman yang terus berubah sangat bergantung pada proses pewarisan nilai kepada generasi penerus. Apabila anak-anak muda dan generasi penerus tidak lagi mengenal makna yang terkandung di dalam sebuah ritual adat, maka tradisi tersebut berisiko besar mengalami pergeseran makna dan berubah wujud menjadi sekadar pertunjukan tontonan kosong tanpa pemahaman nilai filosofis di baliknya. Oleh karena itu, pelibatan secara aktif anak-anak dan generasi muda dalam setiap kegiatan pelestarian budaya menjadi sebuah keharusan yang mutlak. Penyelenggaraan Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia tahun 2026 dirancang secara kreatif agar tidak hanya berisi prosesi ritual adat yang kaku saja. Rangkaian acara festival tersebut juga mencakup berbagai kegiatan edukasi sejarah, perlombaan tradisional yang melibatkan anak-anak dan pelajar sekolah, kegiatan bakti sosial, kejuaraan olahraga rakyat, hingga panggung hiburan seni masyarakat. Festival budaya ini diselenggara lewat kolaborasi yang baik antara warga masyarakat Desa Sugian dengan mahasiswa yang tergabung dalam program pengabdian masyarakat. Pola pendekatan kolaboratif seperti ini memberikan ruang yang sangat luas bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai tradisi leluhur mereka dalam suasana yang santai, akrab, dan relevan dengan dinamika kehidupan masa kini. Melalui cara tersebut, para pemuda tidak hanya mendengar kisah tentang Roah Pesisi dari cerita orang tua semata, tetapi mereka dapat melihat dan merasakan secara langsung bagaimana masyarakat menjalankan tradisi tersebut dengan penuh rasa bangga.

Dari Ritual Adat Menjadi Festival Budaya

Tradisi Roah Pesisi pada mulanya murni merupakan sebuah ritual adat komunal yang hidup secara mandiri di tengah masyarakat nelayan setempat. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika pariwisata daerah, kegiatan sakral tersebut kini dikemas secara menarik ke dalam bentuk festival budaya modern. Pelaksanaan Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia tahun 2026 dipusatkan di kawasan Pantai Tekalok, Desa Sugian, dan berlangsung selama dua hari penuh. Di luar pelaksanaan ritual adat utama yang sakral, festival ini menghadirkan berbagai agenda kreatif yang menonjolkan potensi unggulan dan kearifan lokal masyarakat setempat. Perubahan bentuk penyajian tradisi dari ritual tertutup menjadi festival terbuka seperti ini merupakan fenomena yang sangat menarik dalam peta pelestarian kebudayaan Nusantara kontemporer. Penyelenggaraan festival terbukti efektif membantu memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada masyarakat luas yang berasal dari luar daerah. Kendati demikian, identitas asli dan makna sakral di balik tradisi tersebut harus tetap dijaga dengan ketat agar kegiatan kebudayaan ini tidak tercabut dari akar komunitas penciptanya. Dalam kasus Roah Pesisi, warga masyarakat Desa Sugian tetap memegang kendali penuh dan menjadi subjek utama yang menentukan jalannya ritual adat, sehingga keaslian nilai tradisi tetap terjaga dengan baik di tengah kemasan festival yang semakin modern.

Potensi Wisata Budaya

Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur melihat penyelenggaraan Roah Pesisi sebagai salah satu agenda pariwisata unggulan yang memiliki potensi besar untuk menarik minat kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara. Pelaksanaan festival budaya ini dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang strategis untuk memperkenalkan keindahan alam Pantai Sugian serta dinamika kehidupan unik masyarakat pesisir kepada para pengunjung yang datang. Wisata budaya memiliki karakteristik yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan wisata alam biasa yang hanya menawarkan pemandangan fisik semata. Para wisatawan yang berkunjung tidak hanya datang sekadar untuk menikmati panorama pantai atau lautan yang indah, tetapi mereka juga berkesempatan untuk menyelami cerita sejarah, falsafah hidup, serta kearifan lokal dari masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir tersebut. Dalam konteks pariwisata berkelanjutan, Roah Pesisi menawarkan pengalaman autentik mengenai hubungan harmonis antara manusia dengan laut, kekayaan ragam kesenian tradisional, dinamika kehidupan kerja nelayan, serta kuatnya nilai kebersamaan sosial di desa. Meskipun demikian, perkembangan sektor wisata budaya ini juga harus dikelola secara bijaksana dengan senantiasa memperhatikan aspirasi dan kepentingan masyarakat lokal sebagai pemilik sah tradisi tersebut. Upaya pelestarian budaya akan jauh lebih bermakna apabila komunitas lokal tetap memiliki ruang otonom untuk menentukan bagaimana tradisi leluhur mereka dijalankan, dihargai, dan diwariskan kepada masa depan.

Menjaga Tradisi Tanpa Kehilangan Makna

Arus modernisasi global membawa perubahan sosial yang sangat besar terhadap pola kehidupan masyarakat pesisir di berbagai penjuru nusantara. Teknologi penangkapan ikan modern berkembang dengan pesat, sarana komunikasi digital menjadi semakin cepat diakses, dan generasi muda saat ini memiliki pilihan lapangan pekerjaan yang jauh lebih beragam di luar sektor kelautan. Di tengah pusaran perubahan zaman yang begitu masif tersebut, keberadaan tradisi lokal seperti Roah Pesisi berfungsi sebagai jangkar pengingat yang sangat berharga mengenai ikatan historis antara masyarakat dengan ruang hidup tempat mereka tinggal. Tradisi kebudayaan tidak harus dipahami secara kaku sebagai artefak masa lalu yang berhenti pada zaman dahulu kala. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya terbukti masih sangat relevan untuk terus dibicarakan dan diaplikasikan dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini. Semangat rasa syukur kepada Sang Pencipta, kuatnya ikatan kebersamaan sosial, sikap hormat terhadap kelestarian alam, serta kearifan lokal berupa aturan memberikan waktu istirahat bagi ekosistem laut merupakan pilar-pilar penting yang masih sangat mudah dipahami oleh generasi masa kini. Tantangan terbesar yang harus dihadapi bersama adalah bagaimana menjaga keseimbangan yang tepat antara upaya memperkenalkan tradisi melalui festival pariwisata dengan komitmen teguh untuk mempertahankan makna filosofis aslinya agar tidak tergerus oleh kepentingan komersial semata.

Kesimpulan

Tradisi Roah Pesisi Sambelia merupakan salah satu warisan kebudayaan masyarakat pesisir Kabupaten Lombok Timur yang memperlihatkan jalinan hubungan yang sangat erat antara kehidupan nelayan, sistem nilai budaya, dan kelestarian ekosistem laut. Melalui pelaksanaan rangkaian kegiatan seperti doa bersama yang khidmat, arak-arakan puluhan perahu nelayan, iringan musik tradisional Gendang Beleq yang meriah, serta prosesi pelarungan sesaji adat di tengah lautan lepas, masyarakat Desa Sugian berhasil mengekspresikan rasa syukur sekaligus memohon keselamatan bagi para nelayan yang bertaruh nyawa di laut. Hal yang membuat tradisi ini istimewa dan bernilai tinggi bagi dunia modern adalah adanya aturan adat berupa larangan beraktivitas di laut selama tiga hari berturut-turut setelah ritual selesai. Bagi warga setempat, masa jeda tersebut merupakan wujud nyata kearifan lokal untuk memberikan kesempatan bagi ekosistem laut memulihkan diri secara alami dari eksploitasi manusia. Roah Pesisi membuktikan secara nyata bahwa warisan budaya bangsa tidak selalu harus berwujud benda-benda purbakala di dalam museum, melainkan dapat hidup dan bernapas melalui aturan adat, ritual sakral, kesenian musik, semangat kebersamaan, dan cara arif masyarakat dalam memperlakukan alam sekitarnya. Ketika tradisi luhur tersebut terus dirawat, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi penerus, Roah Pesisi tidak hanya berhenti sebagai cerita nostalgia tentang masa lalu, melainkan tetap menjadi bagian yang hidup dari identitas sejati masyarakat pesisir Sambelia hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *