Mengenal Nujuh Jerami, tradisi panen masyarakat Suku Lom di Bangka yang menyimpan nilai syukur, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam.
Nujuh Jerami: Tradisi Panen Suku Lom yang Menyatukan Manusia, Alam, dan Leluhur
Di tengah gelombang modernisasi yang kian deras mengikis batas-batas kebudayaan lokal di berbagai pelosok Nusantara, sejumlah komunitas adat di Indonesia masih secara konsisten memelihara ritus-ritus kuno yang berkelindan erat dengan siklus kehidupan dan kosmologi alam. Salah satu tradisi agraris yang teramat memikat dan sarat akan makna spiritual adalah Nujuh Jerami. Tradisi ini merupakan ritual tahunan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Lom atau Suku Mapur di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Perayaan Nujuh Jerami tidak sekadar dimaknai sebagai penanda berakhirnya kegiatan memotong padi di ladang. Lebih dari sekadar selebrasi fisik, Nujuh Jerami berfungsi sebagai wadah sakral bagi masyarakat adat untuk meluapkan rasa syukur yang mendalam, mempererat tali silaturahmi antarwarga, merawat ingatan kolektif terhadap ajaran leluhur, sekaligus menandai pembukaan siklus penanaman padi pada musim berikutnya. Mengingat signifikansi kebudayaan dan nilai kemanusiaannya yang begitu tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan Upacara Adat Nujuh Jerami sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2015, yang dikategorikan dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan dengan lokus utama di Kabupaten Bangka.
Etimologi dan Esensi Siklus Agraris Nusantara
Latar belakang lahirnya Nujuh Jerami berpijak pada pola hidup agraris Suku Lom yang amat teratur dan penuh kepasrahan pada dinamika alam. Secara etimologis, istilah “nujuh jerami” memiliki pijakan bahasa lokal yang sangat eksplisit. Penjelasan dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menguraikan bahwa kata “nujuh” berakar dari kata tujuh, yang merujuk pada hari ketujuh pasca-panen raya, sedangkan kata “jerami” mengacu pada tangkai atau sisa-sisa batang padi yang telah dipotong saat proses pengetaman.
Tradisi ini memegang peranan krusial sebagai titik kulminasi setelah seluruh bulir padi berhasil dipanen dan disimpan di dalam lumbung. Ungkapan kegembiraan dan rasa syukur tersebut kemudian ditumpahkan melalui serangkaian prosesi adat, jamuan makan bersama, hingga berbagai aktivitas komunal yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Tidak berhenti sebagai pesta ucapan terima kasih, Nujuh Jerami juga mengemban fungsi ekologis sebagai saklar penanda pergeseran siklus pertanian. Usai prosesi Nujuh Jerami diselesaikan, masyarakat adat Mapur menganggap tanah dan hutan telah disegarkan kembali, sehingga mereka dapat melangkah menuju persiapan musim tanam baru, mulai dari pembukaan lahan secara arsitektural hingga penanaman benih yang baru. Melalui kacamata ini, Nujuh Jerami membuktikan sebuah harmoni kosmis di mana manusia, tanah, tanaman, dan sang waktu berada dalam satu ikatan yang tak terpisahkan.
Dusun Air Abik dan Denyut Kehidupan Adat Suku Lom
Salah satu benteng pertahanan terakhir peradaban Suku Lom yang secara konsisten menyelenggarakan ritual ini adalah Dusun Air Abik, yang terletak di Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Wilayah ini sangat ternama karena menjadi rumah bagi Kampung Adat Gebong Memarong, sebuah kawasan permukiman tradisional yang masih mempertahankan gaya arsitektur dan tata ruang khas masyarakat Mapur.
Di Dusun Air Abik, Nujuh Jerami dihayati bukan sebagai pertunjukkan seni yang dipaksakan, melainkan sebagai bagian organik dari napas kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap tahunnya, ritual ini rutin digelar dengan penuh kehidmatan. Keberlanjutan tradisi ini menegaskan sebuah kebenaran universal dalam ilmu antropologi: warisan budaya sejati tidak selalu berupa tumpukan artefak batu atau benda-benda kuno yang dipajang di museum, melainkan berupa tradisi lisan dan ritual hidup (living heritage) yang terus dihidupkan, dihirup, dan dipraktikkan oleh komunitas pemiliknya melintasi batas zaman.
Filsafat Rasa Syukur dan Keterikatan Ekologis
Pondasi filosofis paling mendasar dari penyelenggaraan Nujuh Jerami terletak pada ekspresi rasa syukur yang tulus kepada Sang Pencipta dan para leluhur atas hasil bumi yang diperoleh. Bagi Suku Lom yang kehidupannya sangat bergantung pada sistem berladang gilir balik (huma), Keberhasilan memanen padi bukanlah semata-mata produk dari kerja keras fisik manusia atau keunggulan alat-alat pertanian.
Masyarakat Mapur sangat meyakini adanya jejaring kosmologis yang amat rumit di balik sebutir beras. Kualitas benih, tingkat kesuburan tanah, kejernihan air sungai, intensitas curah hujan, hingga keseimbangan ekosistem hutan sekitarnya merupakan variabel alam yang saling bekerja sama memungkinkan tanaman padi tumbuh subur hingga siap dipetik. Oleh sebab itu, panen yang melimpah dipandang sebagai anugerah Ilahi yang harus dihormati dan dibagikan secara adil. Dokumentasi pemerintah mengenai Nujuh Jerami menegaskan bahwa dalam setiap doa dan mantra yang dipanjatkan oleh tokoh adat, terselip pula permohonan keselamatan dan perlindungan agar lahan pertanian mereka terhindar dari serangan hama dan bencana alam pada musim tanam berikutnya.
Beras Merah sebagai Artefak Kebudayaan dan Pangan Kuno
Dalam ritual Nujuh Jerami, terdapat satu unsur komoditas agraris yang memiliki kedudukan paling disakralkan, yakni padi atau beras merah lokal. Berdasarkan uraian Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia, masyarakat Orang Lom di kawasan Air Abik dan Pejam secara khusus mempersembahkan Nujuh Jerami sebagai ajang penghormatan terhadap keberhasilan memanen jenis varietas padi darat ini.
Bagi Suku Lom, beras merah bukan sekadar sumber karbohidrat untuk mengenyangkan perut atau komoditas ekonomi untuk dijual di pasar. Padi merah dipandang sebagai simbol kehidupan, wujud keringat leluhur, serta penghubung spiritual antara masyarakat adat dengan tanah kelahiran mereka. Nilai kesakralan beras merah ini tecermin dari bagaimana hasil panen tersebut diolah dan disajikan. Beras merah ditumbuk secara tradisional menggunakan lesung kayu, dikukus dengan wadah khusus, lalu disajikan dalam perjamuan adat bersama seluruh warga dan tamu yang hadir. Makanan tersebut menjadi media perekat sosial yang mampu meluluhkan perbedaan dan mempererat solidaritas antarwarga.
Mitologi Mitos Laut dan Darat dalam Penuturan Leluhur
Sebagaimana halnya tradisi-tradisi kuno di Nusantara, Nujuh Jerami diselimuti oleh narasi mitologis yang diturunkan melalui tradisi lisan dari mulut ke mulut. Kisah asal-usul ini memberikan pembenaran moral dan spiritual mengapa ritual panen ini wajib dilaksanakan setiap tahunnya.
Katalog kebudayaan Indonesia mengabadikan sebuah kisah legendaris tentang seorang tokoh leluhur Suku Lom yang mendapatkan petunjuk gaib melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut, sang leluhur diperintahkan untuk merelakan dua orang anaknya demi kelangsungan hidup anak cucu di masa depan. Dalam struktur ceritanya, satu anak dikaitkan dengan ekosistem laut dan menjelma menjadi berbagai jenis ikan, sementara anak lainnya dikaitkan dengan ekosistem daratan yang kemudian menjelma menjadi tanaman padi. Narasi mitologis ini mencerminkan kearifan lokal Suku Lom dalam memahami konsep ketahanan pangan. Dalam pemikiran masyarakat Mapur, ikan di laut dan padi di darat merupakan dua pilar utama penyangga kehidupan yang saling melengkapi dan tidak boleh dipisahkan. Mitologi ini mengajarkan bahwa untuk bertahan hidup, manusia harus menjaga keseimbangan antara eksploitasi hasil darat dan pemanfaatan hasil laut secara bijaksana.
Nujuh Jerami sebagai Arena Integrasi Sosial dan Kebudayaan
Di luar dimensi spiritual dan ekologisnya, Nujuh Jerami menjelma menjadi ruang perjumpaan sosial yang amat dinamis. Berbagai penelitian sosiologis mengenai perayaan adat Nujuh Jerami di Dusun Air Abik menunjukkan bahwa ritual ini memegang peranan sangat vital sebagai sarana rekonsiliasi dan perkat sosial.
Ketika hari puncak Nujuh Jerami tiba, suasana di kampung adat akan mendadak semarak. Masyarakat dari berbagai lapisan usia berkumpul di satu arena untuk mengikuti seluruh rangkaian ritual secara khidmat. Usai prosesi doa dan penyerahan sesaji selesai, perayaan dilanjutkan dengan pertunjukan pelbagai seni tradisional khas Kepulauan Bangka. Dokumentasi pemerintah Kabupaten Bangka mencatat bahwa panggung perayaan Nujuh Jerami kerap dimeriahkan oleh alunan musik dambus yang rancak, tarian campak yang riang, serta pertunjukan seni bela diri pencak silat. Dengan demikian, Nujuh Jerami hadir sebagai sebuah festival kebudayaan yang holistik, di mana ritual keagamaan, kuliner tradisional, pertunjukan seni, serta interaksi sosial melebur menjadi satu kesatuan yang utuh.
Rumah Adat Gebong Memarong dan Arsitektur Lanskap Budaya
Keterikatan Nujuh Jerami dengan Kampung Adat Gebong Memarong menghadirkan perspektif penting mengenai pentingnya kesatuan antara ritual dan ruang fisik. Gebong Memarong merupakan kompleks rumah-rumah tradisional Suku Lom yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu local, dinding pelupuh bambu, dan atap rumbia yang disusun secara harmonis dengan lingkungan sekitarnya.
Penyelenggaraan Nujuh Jerami di lingkungan Gebong Memarong membuktikan bahwa sebuah tradisi membutuhkan ruang budaya (cultural landscape) yang autentik agar nilai-nilai historisnya dapat terpancar secara maksimal. Rumah adat, pelataran tanah, lesung penumbuk padi, hingga kawasan hutan keramat di sekitar kampung bukan sekadar latar belakang visual, melainkan bagian integral dari prosesi ritual itu sendiri. Mengisolasi sebuah upacara adat dari lanskap lingkungannya akan mencabut akar filosofis yang mendasari lahirnya tradisi tersebut. Oleh karena itu, pelestarian Nujuh Jerami secara otomatis menuntut perlindungan terhadap arsitektur tradisional dan kelestarian hutan adat di wilayah Suku Lom.
Ketahanan Budaya di Tengah Arus Perubahan Zaman
Keberhasilan Suku Lom dalam mempertahankan tradisi Nujuh Jerami hingga saat ini memberikan pelajaran berharga mengenai konsep ketahanan budaya (cultural resilience). Di saat banyak komunitas lokal kehilangan identitas budayanya akibat tergerus oleh budaya populer dan modernisasi perekonomian, masyarakat Mapur terbukti sanggup menjaga nyala api tradisi mereka.
Pemerintah Kabupaten Bangka beserta para pemangku adat secara aktif merawat tradisi ini dengan memasukkannya ke dalam kalender pariwisata dan festival budaya tahunan. Kendati demikian, kunci utama dari keberlanjutan tradisi ini tidak terletak pada promosi pariwisata semata, melainkan pada kejelasan mekanisme pewarisan pengetahuan kultural kepada generasi muda Suku Lom. Para pemuda adat tidak hanya diposisikan sebagai penonton atau panitia pelaksana festival, tetapi juga dibekali pemahaman mendalam mengenai makna simbolik di balik mantra, alasan pemilihan beras merah, hingga filosofi penghormatan terhadap alam. Tanpa adanya transfer pengetahuan yang jujur dan mendalam, sebuah tradisi dikhawatirkan akan terjerumus menjadi sekadar tontonan seremonial yang kehilangan jiwa sakralnya.
Eko-Spiritualitas dan Pembelajaran Lingkungan bagi Dunia Modern
Salah satu pelajaran paling berharga yang dapat dipetik oleh dunia modern dari tradisi Nujuh Jerami adalah konsep eko-spiritualitas. Masyarakat modern kerap memandang alam dan hutan hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi tanpa batas, yang pada akhirnya memicu krisis lingkungan global, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem.
Sebaliknya, Suku Lom melalui Nujuh Jerami mengajarkan sebuah pandangan dunia di mana alam diposisikan sebagai subjek yang hidup, bernapas, dan memiliki ruh yang wajib dihormati. Aktivitas bercocok tanam dipahami sebagai sebuah dialog spiritual antara manusia dengan tanah, di mana keberhasilan panen harus dibayar kembali dengan doa, penghormatan, dan pelestarian alam. Pengetahuan lokal seperti ini menjadi sangat relevan untuk digaungkan kembali di tengah maraknya krisis ekologi saat ini, sebagai pengingat bahwa manusia tidak pernah bisa berdiri di luar hukum-hukum alam.
Kesimpulan
Nujuh Jerami berdiri kokoh sebagai salah satu mahakarya kebudayaan agraris milik masyarakat Suku Lom di Pulau Bangka. Ditetapkannya tradisi ini sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2015 menegaskan posisi pentingnya dalam peta keberagaman budaya Nusantara. Lebih dari sekadar ajang pesta pora pasca-panen, Nujuh Jerami merupakan manifes spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta, menjaga keharmonisan hubungan sosial antarwarga, mengagungkan kekayaan pangan lokal beras merah, serta merawat kelestarian alam lingkungan.
Keberlanjutan tradisi Nujuh Jerami di Dusun Air Abik memberikan harapan cerah bahwa nilai-nilai kearifan lokal Indonesia sanggup bertahan dan bersanding sejajar dengan kemajuan zaman. Melalui perpaduan antara ritual sakral, pertunjukan seni, mitologi leluhur, dan keterikatan pada lanskap Kampung Adat Gebong Memarong, Nujuh Jerami terus memancarkan pesona kebudayaan yang tak lekang oleh waktu.
Pada akhirnya, Nujuh Jerami mengajarkan kepada kita semua tentang hakikat menjadi manusia yang tahu berterima kasih. Di dalam bulir-bulir beras merah dan kehangatan perjamuan adat Nujuh Jerami, tersimpan sebuah nasihat luhur dari leluhur Suku Lom: bahwa kebahagiaan sejati manusia baru akan tercapai tatkala kita mampu hidup berdampingan secara damai, selaras, dan saling menghormati dengan tanah tempat kita berpijak, alam tempat kita bernaung, dan sesama manusia yang hidup bersama kita.