Edukasi & Literasi Budaya Warisan Budaya Warisan Sejarah

Mappanre Ri Tasi’e Pagatan: Tradisi Pesisir Bugis yang Menjaga Ingatan tentang Laut

Mengenal Mappanre Ri Tasi’e Pagatan, tradisi masyarakat Bugis Tanah Bumbu yang berkaitan dengan rasa syukur, kehidupan nelayan, laut, dan kebersamaan.

Mappanre Ri Tasi’e Pagatan: Tradisi Pesisir Bugis yang Menjaga Ingatan tentang Laut

Di kawasan pesisir Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, terdapat sebuah tradisi maritim yang agung dan sarat makna, yang memperlihatkan betapa kuatnya ikatan batin antara kehidupan masyarakat lokal dengan luasnya hamparan lautan. Tradisi luhur yang sarat nilai kultural ini dikenal luas sebagai Mappanre Ri Tasi’e Pagatan, yang dalam sejarah perkembangannya dahulu lebih familiar disebarluaskan dengan sebutan Mappanretasi. Tradisi turun-temurun ini tumbuh dan mengakar kuat dalam komunitas masyarakat suku Bugis di Pagatan, serta berkaitan secara emosional dengan denyut kehidupan sehari-hari warga pesisir yang sebagian besar mata pencahariannya bergantung pada hasil kekayaan laut. Pada setiap pelaksanaan upacara tahunannya, seluruh elemen masyarakat berkumpul bersama, mempersiapkan berbagai perlengkapan adat yang sakral, menghias perahu-perahu nelayan dengan ornamen warna-warni, mengikuti prosesi panjang menuju tengah laut, serta melaksanakan doa keselamatan bersama. Pemerintah Republik Indonesia melalui instansi kebudayaan resmi telah menetapkan Mappanretasi Pagatan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan nomor SK 264/M/2018, di mana tradisi ini dimasukkan ke dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Keberadaan tradisi agung ini menjadi cerminan nyata bagaimana kebudayaan masyarakat pesisir tidak pernah bisa dipisahkan dari lingkungan ekologis laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Berasal dari Komunitas Bugis di Pagatan

Kawasan Pagatan secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Wilayah pesisir ini menyimpan sejarah panjang dan gemilang sebagai salah satu pusat peradaban awal bagi komunitas masyarakat suku Bugis di tanah rantau Banjar. Tradisi Mappanretasi tumbuh dan berkembang dari dinamika sosial masyarakat tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ilmiah dari UIN Antasari Banjarmasin, tradisi ini dilaksanakan secara turun-temurun oleh warga Pagatan, khususnya oleh para keluarga nelayan dan komunitas maritim, serta memiliki rangkaian kegiatan sakral yang melibatkan peran aktif para tokoh adat dan warga umum. Kehadiran kebudayaan Bugis di kawasan pesisir Kalimantan ini sekaligus merekam lembaran sejarah migrasi penduduk, pembentukan jaringan kekerabatan, serta adaptasi komunitas di wilayah pesisir baru. Melalui tradisi ini, masyarakat berhasil mempertahankan identitas kultural asal mereka sekaligus membangun keharmonisan relasi ekologis dengan alam tempat mereka mencari penghidupan.

Makna Nama Mappanre Ri Tasi’e

Secara etimologis, nama Mappanre Ri Tasi’e berasal dari kosakata bahasa Bugis asli. Istilah ini secara tradisional sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “memberi makan laut”, di mana kata “tasi” memiliki arti laut. Dalam dinamika perkembangan penggunaannya di era modern, istilah Mappanretasi juga mengalami penyesuaian penyebutan menjadi Mappanre Ri Tasi’e, namun pergantian nama tersebut sama sekali tidak mereduksi esensi keagungan tradisi yang dirayakan oleh masyarakat Pagatan. Berbagai literatur penelitian mendefinisikan Mappanretasi sebagai upacara adat tahunan yang merefleksikan rasa syukur mendalam masyarakat atas limpahan hasil tangkapan ikan di laut, sekaligus dipanjatkan sebagai doa permohonan keselamatan bagi para nelayan yang bekerja mempertaruhkan nyawa di atas perairan. Pemaknaan filosofis ini sangat penting untuk dipahami karena meluruskan pandangan keliru yang hanya melihat laut sekadar tempat mencari komoditas ikan semata. Laut dalam pandangan masyarakat Bugis Pagatan telah bertransformasi menjadi ruang hidup sosial, ekonomi, dan spiritual yang utuh.

Tradisi yang Berkaitan dengan Kehidupan Nelayan

Bagi komunitas masyarakat yang hidup di wilayah pesisir, laut memegang posisi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup mereka. Dari kekayaan perairan lautlah para nelayan menggantungkan harapan untuk memperoleh ikan dan hasil laut lainnya guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kendati demikian, kehidupan mengandalkan lautan luas juga menyimpan risiko bahaya yang tinggi. Tantangan berupa amukan cuaca buruk, gelombang pasang yang tinggi, tiupan angin kencang, serta jarak tempuh pelayaran yang jauh menuntut para nelayan untuk memiliki keberanian mental sekaligus penguasaan pengetahuan ekologis yang matang. Di sinilah tradisi Mappanre Ri Tasi’e hadir dan berkembang sebagai respons kultural atas realitas kehidupan tersebut. Tradisi ini menjadi momentum sakral bagi warga untuk berkumpul, bersyukur, dan berdoa bersama memohon perlindungan Yang Maha Kuasa. Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa Mappanretasi merupakan upacara adat luhur masyarakat Pagatan keturunan suku Bugis yang diselenggarakan sebagai wujud sujud syukur atas berkah sumber daya alam laut yang melimpah.

Rangkaian Tradisi Tidak Berlangsung Seketika

Pelaksanaan Mappanre Ri Tasi’e bukanlah sebuah kegiatan seremonial instan yang sekadar membawa sesaji ke tengah laut dalam waktu singkat. Penelitian akademis dari Universitas Lambung Mangkurat mencatat bahwa terdapat tahapan-tahapan ritual yang cukup panjang dan terstruktur dalam pelaksanaannya. Rangkaian acara tersebut meliputi tahapan Mappamulagau, Maddeme Berre, persiapan cermat berbagai perlengkapan adat oleh tokoh sandro (Olo Sandro), Mallibu Wanuwa, prosesi permohonan izin spiritual sebelum bergerak menuju laut, puncak acara Massorong Olo di tengah perairan, pembacaan doa keselamatan bersama, hingga ditutup dengan acara syukuran komunal setelah seluruh kegiatan utama selesai. Setiap tahapan yang dilewati ini menunjukkan tingginya tingkat keterlibatan dan partisipasi aktif masyarakat. Ada proses persiapan yang matang, rapat koordinasi warga, pelaksanaan tata cara adat, pelayaran bersama ke laut, hingga kegiatan makan bersama setelah prosesi selesai. Kompleksitas tahapan ini memberikan dimensi sosial yang sangat luas pada tradisi Mappanre Ri Tasi’e.

Peran Sandro dalam Prosesi

Di dalam struktur pelaksanaan tradisi Mappanre Ri Tasi’e, terdapat figur tokoh penting yang memegang otoritas khusus, yaitu yang disebut sebagai sandro. Berbagai penelitian antropologis dan sejarah mengenai Mappanretasi menempatkan sandro sebagai pemimpin spiritual atau figur adat yang memegang peranan vital dalam mengatur bagian-bagian krusial dari jalannya ritual. Penelitian lapangan mengenai pelaksanaan tradisi di Pagatan mencatat bahwa setelah rombongan perahu peserta berlayar ke tengah laut, sang sandro lah yang bertugas menentukan titik koordinat lokasi pelarungan yang tepat serta memimpin jalannya ritual sakral sesuai dengan kewenangannya. Kehadiran peran sandro ini membuktikan bahwa tradisi masyarakat pesisir memiliki struktur sosial yang tertib dan terorganisir dengan baik. Tidak sembarang orang dapat melakukan bagian ritual tersebut secara bebas, melainkan harus dipimpin oleh figur yang memiliki pengetahuan adat dan legitimasi sosial di dalam komunitasnya.

Perahu Menjadi Bagian Penting

Salah satu pemandangan visual yang paling ikonik, meriah, dan mudah dikenali dalam perhelatan Mappanre Ri Tasi’e adalah kehadiran puluhan perahu nelayan yang berhias indah. Perahu-perahu tradisional tersebut didekorasi dengan berbagai ornamen hiasan warna-warni, umbul-umbul, dan bendera kebesaran untuk mengangkut para peserta menuju titik lokasi prosesi inti di tengah laut. Dalam dokumentasi penyelenggaraan festival di Pagatan, deretan perahu hias ini menciptakan pemandangan panorama maritim yang sangat memukau di kawasan pantai. Keberadaan perahu dalam konteks tradisi ini tidak sekadar berfungsi sebagai alat transportasi air biasa. Perahu bertransformasi menjadi elemen visual utama tradisi yang secara simbolis mengingatkan kembali bahwa identitas dan denyut nadi kehidupan masyarakat Pagatan memang berakar kuat dari aktivitas kebaharian dan budaya maritim nusantara.

Massorong Olo di Tengah Laut

Puncak dari seluruh rangkaian ritual Mappanre Ri Tasi’e ditandai dengan pelaksanaan prosesi sakral yang dinamakan Massorong Olo. Berdasarkan penelitian mengenai seni pertunjukan budaya Mappanretasi, prosesi puncak ini dilangsungkan secara khidmat di tengah-tengah perairan laut lepas. Pada tahapan inilah dilaksanakan upacara doa keselamatan bersama serta pelarungan perlengkapan ritual yang telah dipersiapkan sejak di daratan. Kegiatan di tengah laut ini menjadi simbol hubungan transendental antara manusia dan ruang lautan luas. Setelah seluruh persiapan administratif dan kultural diselesaikan di daratan, massa bergerak secara beriringan menaklukkan ombak menuju laut sebagai arena utama pelaksanaan tradisi. Formasi perahu yang bergerak bersama-sama menuju tengah laut memberikan karakter visual yang unik, magis, dan memperkuat identitas pesisir tradisi ini.

Makanan dan Perlengkapan Adat

Berbagai jenis bahan makanan tradisional dan perlengkapan adat yang spesifik selalu dipersiapkan secara teliti dalam rangkaian tradisi Mappanre Ri Tasi’e. Hasil kajian tentang Mappanretasi menunjukkan adanya penggunaan bahan pangan tertentu yang dibawa ke tengah laut sebagai bagian dari kelengkapan ritual budaya. Menariknya, setelah prosesi ritual utama di perairan selesai dilaksanakan, makanan-makanan tersebut tidak dibuang, melainkan disantap dan dinikmati bersama-sama oleh seluruh peserta yang hadir. Praktik makan bersama ini mengandung nilai sosial yang sangat kuat. Makanan tidak hanya berfungsi sebagai atribut pelengkap ritual keagamaan semacam sesaji, tetapi bertindak sebagai media pemersatu yang mempertemukan warga dalam kehangatan kebersamaan. Melalui cara ini, tradisi memperlihatkan dua sisi yang berjalan seirama: terdapat unsur adat sakral yang simbolis, dan di sisi lain terdapat kegiatan sosial kemasyarakatan yang mempererat ikatan kekeluargaan antarmanusia.

Simbol yang Terdapat dalam Perlengkapan

Penelitian mutakhir mengenai makna simbolik di balik tradisi Mappanre Ri Tasi’e menemukan bahwa setiap benda dan perlengkapan yang dihadirkan dalam ritual memiliki pemaknaan filosofis yang mendalam bagi masyarakat Bugis. Salah satu contoh yang menonjol adalah penggunaan beras ketan dengan empat variasi warna, yang dalam telaah simbolik dikaitkan secara filosofis dengan representasi unsur pembentuk alam semesta, yaitu bumi, air, api, dan udara. Penggunaan sepasang ayam (jantan dan betina) serta telur dan hiasan emas juga dimaknai sebagai lambang keseimbangan ekosistem kosmis dan kemakmuran hidup. Penjelasan akademis ini memperlihatkan bahwa benda-benda yang dihadirkan dalam upacara adat tidak pernah dipilih secara sembarangan atau acak. Warna, bentuk fisik, jenis makanan, dan atribut perlengkapan semuanya menyimpan narasi budaya dan kearifan lokal yang dipahami secara kolektif oleh masyarakat pendukungnya.

Dari Tradisi Keluarga Menjadi Perayaan Masyarakat

Perjalanan sejarah tradisi Mappanretasi di Pagatan mengalami evolusi sosial yang cukup panjang dari masa ke masa. Berdasarkan catatan para sejarawan lokal yang dirujuk oleh media daerah, tidak ditemukan dokumen tertulis pasti yang mencatat tahun pertama kali tradisi ini dimulai, namun berdasarkan tuturan lisan turun-temurun, praktik ini awalnya berakar dari tradisi internal keluarga besar daeng atau tokoh terkemuka bernama Muhammad Saleh sekitar tahun 1850. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah penduduk, tradisi privat tersebut perlahan bertransformasi menjadi perayaan kebudayaan komunal yang melibatkan seluruh warga masyarakat luas. Perubahan sifat tradisi ini membuktikan bagaimana sebuah kebiasaan kultural yang mulanya berlingkup terbatas mampu berkembang menjadi identitas kebudayaan daerah yang membanggakan. Masyarakat luas kemudian ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pendukung, sehingga Mappanre Ri Tasi’e menjelma menjadi festival akbar yang memadukan dimensi adat istiadat, ekspresi seni budaya, dan potensi pariwisata daerah.

Pertemuan Berbagai Kelompok Masyarakat

Kawasan Pagatan di Kabupaten Tanah Bumbu sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang majemuk dan tidak hanya dihuni oleh satu kelompok etnis tunggal saja. Oleh sebab itu, tradisi Mappanre Ri Tasi’e dalam perkembangannya juga hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang multikultural. Berbagai riset sejarah sosial mengenai Mappanretasi mencatat bahwa perayaan tahunan ini secara efektif berfungsi sebagai ruang terbuka untuk merajut interaksi dan hubungan sosial yang harmonis antara warga dari berbagai latar belakang suku bangsa dan agama. Hal ini merupakan fenomena yang menarik, di mana tradisi yang lahir dari rahim komunitas suku Bugis kemudian bertransformasi menjadi milik bersama seluruh warga daerah tanpa memandang sekat identitas. Masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dapat turut serta menyaksikan, memeriahkan kegiatan pendukung, atau terlibat langsung dalam perayaan. Tradisi ini pada akhirnya sukses memainkan peran sebagai ruang perjumpaan budaya yang inklusif.

Mappanre Ri Tasi’e di Era Modern

Sebagaimana warisan budaya leluhur pada umumnya, tradisi yang telah berusia ratusan tahun ini tentu mengalami berbagai bentuk penyesuaian di tengah arus modernisasi. Pelaksanaan Mappanre Ri Tasi’e di era kontemporer melibatkan koordinasi yang sinergis antara masyarakat adat, pemerintah daerah, komunitas seni budaya, dan masyarakat umum secara luas. Dalam penyelenggaraannya di tahun 2026 ini, prosesi Mappanre Ri Tasi’e kembali digelar secara meriah di Pagatan dengan menghadirkan atraksi perahu-perahu hias yang berlayar mengarungi perairan pantai. Dokumentasi pemberitaan media massa menunjukkan tingginya antusiasme keterlibatan warga dan para tokoh adat dalam menyukseskan acara tersebut. Dinamika modern ini menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki ketahanan dan fleksibilitas untuk terus hidup mengikuti perkembangan zaman. Meskipun demikian, transformasi bentuk perayaan modern tersebut harus senantiasa diimbangi dengan pemeliharaan pemahaman sejarah dan nilai filosofis esensial yang terkandung di dalamnya.

Penetapan sebagai Warisan Budaya Indonesia

Pengakuan formal negara terhadap nilai agung yang terkandung dalam tradisi ini diwujudkan melalui penetapan resmi Mappanretasi Pagatan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2018. Status hukum kebudayaan tersebut tercatat secara sah di dalam basis data resmi pemerintah dengan nomor SK 264/M/2018 di bawah domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Penetapan nasional ini memberikan legitimasi dokumenter yang kuat terhadap eksistensi Mappanretasi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan khazanah budaya nusantara. Kendati demikian, perlu disadari bersama bahwa kelestarian sejati dari sebuah tradisi tidak boleh hanya bergantung pada perolehan piagam penetapan administratif semata. Tradisi akan terus bernyawa apabila generasi penerus bangsa secara konsisten mau memahami bukan sekadar tata cara pelaksanaannya di lapangan, melainkan juga mengerti latar belakang historis dan alasan mengapa tradisi tersebut dilestarikan.

Menjaga Tradisi Pesisir untuk Generasi Berikutnya

Tradisi Mappanre Ri Tasi’e menyimpan gudang ilmu pengetahuan lokal yang sangat berharga untuk dipelajari oleh generasi muda saat ini. Melalui perhelatan ini, anak-anak muda dapat menggali sejarah kedatangan komunitas Bugis di Pagatan, memahami realitas perjuangan hidup para nelayan tradisional, mendalami etika hubungan harmonis antara manusia dan ekosistem laut, serta mengenali sistem struktur sosial komunitas dan simbol-simbol luhur ritual adat. Pemanfaatan media digital modern dapat dioptimalkan sebagai sarana strategis untuk mendokumentasikan tradisi ini. Penyebaran informasi melalui foto jurnalistik, video dokumenter yang menarik, penulisan artikel ilmiah, serta arsip digital terbukti sangat membantu dalam memperkenalkan kekayaan budaya pesisir ini kepada masyarakat luas yang belum berkesempatan menyaksikannya secara langsung. Tentu saja, proses dokumentasi digital tersebut harus tetap menjunjung tinggi etika kesopanan adat serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat pemilik sah tradisi.

Kesimpulan

Mappanre Ri Tasi’e Pagatan merupakan mahakarya tradisi masyarakat suku Bugis di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, yang memiliki pertalian erat dengan kehidupan pesisir dan profesi nelayan. Tradisi agung ini berfungsi secara optimal sebagai ruang kolektif untuk mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Pencipta, memanjatkan doa permohonan keselamatan di laut, serta memperkuat jalinan solidaritas sosial antarwarga. Rangkaian kegiatan yang terstruktur mulai dari persiapan adat, musyawarah warga, penghormatan terhadap norma tradisi, pelayaran menggunakan perahu hias, hingga puncak ritual Massorong Olo di tengah perairan memperlihatkan kekayaan struktur budaya yang dimiliki komunitas ini. Penetapan resmi Mappanretasi Pagatan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2018 menegaskan bahwa tradisi masyarakat pesisir merupakan pilar penting dalam kekayaan identitas nasional. Lebih dari sekadar pesta pantai yang meriah, Mappanre Ri Tasi’e menyimpan ingatan kolektif yang abadi mengenai relasi harmonis manusia dengan laut, sejarah panjang migrasi suku Bugis di Pagatan, serta nilai kebersamaan yang tulus diwariskan dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *