Mengulas Kompleks Percandian Bumiayu di Sumatera Selatan, peninggalan Hindu terbesar di luar Pulau Jawa yang menjadi bukti berkembangnya peradaban Nusantara di tepian Sungai Lematang.
Kompleks Percandian Bumiayu: Jejak Peradaban Hindu Terbesar di Sumatera Selatan
Ketika berbicara mengenai candi-candi Hindu di Indonesia, perhatian masyarakat umumnya tertuju pada Candi Prambanan di Yogyakarta atau kompleks percandian di Jawa Timur. Padahal, jauh di tepian Sungai Lematang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, berdiri sebuah kawasan percandian yang menjadi bukti bahwa peradaban Hindu juga berkembang pesat di luar Pulau Jawa. Kawasan tersebut dikenal sebagai Kompleks Percandian Bumiayu, salah satu situs arkeologi terpenting di Sumatera.
Kompleks ini diperkirakan berkembang antara abad ke-9 hingga ke-13 Masehi, pada masa ketika jalur perdagangan di Sumatera tumbuh pesat dan berbagai kerajaan saling berinteraksi melalui sungai-sungai besar. Keberadaan candi-candi di Bumiayu menunjukkan bahwa wilayah pedalaman Sumatera Selatan bukan hanya kawasan pertanian, tetapi juga pusat aktivitas keagamaan, perdagangan, dan kebudayaan yang memiliki hubungan dengan berbagai kerajaan di Nusantara.
Berbeda dengan banyak situs sejarah yang hanya menyisakan satu bangunan utama, Bumiayu merupakan sebuah kawasan luas yang terdiri atas sejumlah candi dan struktur pendukung. Penemuan ini memberikan gambaran bahwa kawasan tersebut dahulu merupakan pusat kegiatan masyarakat yang berkembang selama beberapa abad.
Penemuan yang Berawal dari Aktivitas Warga
Keberadaan Kompleks Percandian Bumiayu mulai dikenal pada abad ke-19 ketika para penjelajah Belanda menemukan sisa-sisa bangunan bata di sekitar perkebunan masyarakat. Namun penelitian arkeologi secara intensif baru dilakukan beberapa dekade kemudian setelah ditemukan semakin banyak artefak di kawasan tersebut.
Ekskavasi yang dilakukan secara bertahap berhasil mengungkap keberadaan lebih dari sepuluh gundukan tanah yang ternyata merupakan sisa bangunan candi. Hingga saat ini, beberapa candi telah dipugar sehingga bentuk aslinya dapat dipelajari dengan lebih jelas, sementara kawasan lain masih terus diteliti oleh para arkeolog.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa Bumiayu bukanlah situs tunggal, melainkan sebuah kompleks keagamaan yang dibangun secara bertahap dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Berada di Tepian Sungai Lematang
Salah satu alasan berkembangnya Bumiayu adalah letaknya yang sangat strategis.
Pada masa lalu, Sungai Lematang menjadi jalur transportasi utama yang menghubungkan berbagai permukiman di pedalaman Sumatera dengan kawasan pesisir. Sebelum adanya jalan raya, sungai merupakan “jalan besar” yang digunakan masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian, berdagang, maupun melakukan perjalanan antardaerah.
Melalui jalur inilah berbagai pengaruh budaya, agama, dan teknologi masuk ke wilayah pedalaman Sumatera Selatan. Kehadiran kompleks percandian di dekat sungai menunjukkan bahwa lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan kemudahan akses sekaligus nilai spiritual yang sering dikaitkan dengan keberadaan sumber air.
Arsitektur yang Berbeda dari Candi di Jawa
Sekilas, bangunan-bangunan di Bumiayu memang memiliki kemiripan dengan candi-candi Hindu di Jawa. Namun jika diamati lebih dekat, terdapat sejumlah perbedaan yang menunjukkan karakter lokal Sumatera.
Sebagian besar bangunan menggunakan bata merah sebagai material utama, sementara batu andesit hanya digunakan pada bagian tertentu seperti arca dan ornamen. Teknik ini menunjukkan kemampuan masyarakat setempat dalam memanfaatkan material yang tersedia di lingkungan sekitar.
Selain itu, bentuk bangunan candi di Bumiayu cenderung lebih sederhana, tetapi tetap menampilkan unsur-unsur khas arsitektur Hindu seperti kaki candi, tubuh bangunan, dan ruang utama tempat arca ditempatkan.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa budaya Hindu di Nusantara tidak berkembang secara seragam. Setiap daerah mengadaptasi konsep arsitektur sesuai kondisi alam, bahan bangunan, serta tradisi masyarakat setempat.
Temuan Arca yang Mengungkap Kehidupan Spiritual
Salah satu daya tarik utama Kompleks Percandian Bumiayu adalah berbagai arca yang berhasil ditemukan selama proses ekskavasi.
Para arkeolog menemukan arca Siwa, Nandi, tokoh-tokoh dewa, serta berbagai relief yang menunjukkan kuatnya pengaruh ajaran Hindu Siwa di kawasan tersebut. Beberapa arca memiliki gaya seni yang berbeda dengan arca dari Jawa, memperlihatkan adanya perkembangan seni pahat yang khas di Sumatera Selatan.
Selain arca keagamaan, ditemukan pula fragmen gerabah, manik-manik, benda logam, dan peralatan rumah tangga yang menunjukkan bahwa kawasan percandian ini tidak berdiri sendiri, melainkan berada di tengah komunitas masyarakat yang aktif menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.