Joka Ju Nggela merupakan ritual adat masyarakat Ende yang diwariskan turun-temurun untuk menjaga keseimbangan kehidupan, alam, leluhur, dan hubungan sosial.
Joka Ju Nggela: Ritual Adat Masyarakat Ende untuk Menjaga Harmoni dengan Alam dan Leluhur
Indonesia memiliki banyak sekali tradisi luhur yang lahir dari kedekatan hubungan antara kehidupan masyarakat dengan lingkungan alam tempat mereka hidup dari masa ke masa. Di berbagai daerah di nusantara, masyarakat adat tidak hanya memandang alam sekitarnya sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidup fisik semata, melainkan juga memperlakukannya sebagai bagian tak terpisahkan dari tatanan sosial, moral, dan budaya yang wajib dihormati dan dijaga keseimbangannya. Salah satu tradisi komunal paling agung yang memperlihatkan hubungan harmonis tersebut secara nyata adalah Joka Ju Nggela, yaitu sebuah ritual adat sakral milik masyarakat adat Nggela yang mendiami kawasan Desa Nggela di Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ritual Joka Ju merupakan salah satu pilar upacara adat yang paling penting di dalam bentang kebudayaan masyarakat adat suku Lio. Tradisi ini tidak sekadar berkaitan dengan upaya magis-religius untuk menolak berbagai macam bentuk bala bencana atau malapetaka buruk, melainkan juga berfungsi secara holistik sebagai ruang komunal untuk merawat harmoni relasi antara sesama manusia, hubungan manusia dengan alam lingkungan, hubungan dengan para leluhur yang telah tiada, serta bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta alam semesta. Pelaksanaan ritual akbar ini selalu melibatkan partisipasi aktif dari para tokoh adat tertinggi yang bergelar Mosalaki bersama dengan seluruh warga masyarakat adat setempat secara bergotong royong. Berdasarkan catatan agenda kebudayaan tahun 2026, masyarakat adat Nggela kembali sukses menyelenggarakan rangkaian upacara sakral Joka Ju secara khidmat selama lima hari penuh, terhitung mulai tanggal 4 hingga 9 Juli. Penyelenggaraan yang konsisten ini menunjukkan secara telak bahwa tradisi leluhur tersebut masih memiliki tempat yang sangat terhormat di dalam denyut kehidupan modern masyarakat Nggela dan terus diwariskan dengan baik kepada generasi penerus berikutnya.
Nggela dan Ruang Hidup Masyarakat Adat
Wilayah administratif Desa Nggela terletak secara geografis di wilayah Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Pulau Flores. Kawasan pedesaan ini dikenal luas oleh para antropolog dan penjelajah budaya sebagai salah satu kawasan permukiman adat tradisional yang hingga hari ini masih sangat teguh mempertahankan berbagai unsur kebudayaan otentik masyarakat suku Lio. Berbagai penelitian ilmiah yang mengkaji korelasi antara ritual Joka Ju dengan pola tata ruang permukiman adat Nggela menunjukkan bahwa struktur kampung tradisional di wilayah tersebut memiliki pola spasial yang sangat erat kaitannya dengan sistem kosmologi lokal, struktur hierarki organisasi adat, penataan ruang pemukiman, kondisi topografi alam sekitar, serta berbagai elemen kebudayaan material yang menyertainya. Oleh karena itu, pelaksanaan upacara Joka Ju sama sekali tidak dapat dipisahkan secara sembarangan dari ruang tempat masyarakat adat tersebut tinggal sehari-hari. Ritual tahunan ini merupakan bagian integral dari siklus rangkaian adat yang berlangsung secara berkesinambungan sepanjang tahun dan menduduki posisi sebagai salah satu ritual puncak paling sakral dalam kehidupan warga Nggela. Keterikatan yang sangat kuat antara jalannya ritual adat dan struktur ruang permukiman tersebut memperlihatkan secara jelas bahwa bagi pandangan hidup masyarakat adat, sebuah kampung tradisional tidak pernah dipahami sekadar sebagai kumpulan bangunan fisik tempat tinggal semata. Di balik deretan rumah adat tersebut, terdapat ruang-ruang sosio-kultural yang sarat dengan fungsi sosial, nilai budaya, dan dimensi spiritual yang mendalam.
Makna Joka Ju dalam Kehidupan Masyarakat
Secara umum di dalam pemahaman awam, Joka Ju dikenal luas sebagai ritual tradisional yang ditujukan untuk menolak berbagai hal buruk, penyakit, maupun unsur bala bencana. Namun, apabila dikaji lebih mendalam dalam konteks kehidupan kultural masyarakat Nggela, makna filosofis tradisi ini telah berkembang jauh menjadi bagian integral dari usaha kolektif untuk menjaga keseimbangan semesta. Berdasarkan dokumentasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, warga adat Nggela memaknai pelaksanaan Joka Ju sebagai ruang sakral untuk merawat hubungan yang harmonis dalam empat pilar relasi kehidupan: hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya, hubungan manusia dengan para leluhur, serta hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta. Makna filosofis yang sangat luhur tersebut memperlihatkan betapa konsep keseimbangan kosmik memegang posisi yang amat krusial di dalam tradisi masyarakat Lio. Eksistensi kehidupan manusia tidak pernah dipandang berdiri sendiri secara egois di muka bumi. Hubungan sosial antarwarga harus senantiasa dijaga kedamaiannya, kelestarian lingkungan alam sekitar wajib dihormati, arwah para leluhur tetap dikenang dengan penuh takzim, dan rasa syukur yang tulus kepada Sang Pencipta terus dipelihara tanpa putus. Dengan cara pandang kosmologis yang begitu luhur, Joka Ju bertransformasi dari sekadar upacara seremonial tahunan menjadi instrumen pengingat agar masyarakat senantiasa patuh pada nilai-nilai luhur yang mengatur kehidupan bersama mereka.
Joka Kowa Goba, Mengantar Hal Buruk ke Laut
Salah satu bagian tahapan paling awal yang krusial dalam rangkaian ritual Joka Ju adalah prosesi yang dinamakan sebagai Joka Kowa Goba. Di dalam tahapan ritual ini, berbagai macam unsur penyakit, wabah, hama pertanian, dan energi negatif yang dianggap mengganggu ketenteraman hidup kampung secara simbolis diantar beramai-ramai untuk dibuang jauh ke laut lepas. Rangkaian tahapan ritual tersebut memperlihatkan dengan sangat nyata betapa eratnya hubungan ekologis antara masyarakat Nggela dengan ekosistem lingkungan alam di sekitarnya. Laut luas tidak hanya dipandang secara fungsional sebagai bentang alam perairan biasa, melainkan telah diintegrasikan menjadi bagian dari ruang simbolis di dalam sistem ritual adat mereka. Tindakan ritual mengantar berbagai hal buruk menuju ke laut membawa pesan filosofis yang kuat sebagai bentuk usaha penyucian dan pembersihan kampung dari segala macam gangguan jahat yang dapat merusak tatanan hidup masyarakat. Dalam koridor ilmu budaya, penggunaan simbol-simbol kosmologis semacam ini sangat menarik untuk diamati karena menunjukkan secara empiris bagaimana sebuah komunitas tradisional menerjemahkan persoalan-persoalan pelik kehidupan ke dalam bahasa ritual yang komunikatif. Segala bentuk wabah penyakit, kegagalan panen akibat hama, dan gangguan sosial tidak pernah dipandang semata-mata sebagai malapetaka individual yang soliter, melainkan diposisikan sebagai persoalan kolektif yang harus dihadapi dan diselesaikan secara bersama-sama oleh seluruh warga kampung.
Dedo dan Pembersihan Kampung
Tepat setelah tahapan ritual Joka Kowa Goba selesai dilaksanakan dengan baik, rangkaian panjang upacara Joka Ju kemudian dilanjutkan dengan ritual yang disebut Dedo. Rangkaian upacara adat ini berkaitan erat dengan prosesi pengusiran secara spiritual terhadap berbagai unsur yang disebut sebagai nitu pai, yaitu berbagai kekuatan gaib negatif atau energi destruktif yang diyakini dapat mengganggu kedamaian dan keseimbangan kehidupan di dalam kampung adat. Ritual Dedo menempati posisi yang sangat strategis di dalam kerangka gagasan pembersihan kampung secara total. Setelah berbagai hal buruk dan unsur pengganggu berhasil diantar keluar meninggalkan batas wilayah kampung pada tahap sebelumnya, masyarakat kemudian memasuki fase sakral yang menegaskan kembali kesucian kondisi kampung sebagai ruang hidup bersama yang aman dan damai. Seluruh rangkaian prosesi tersebut menunjukkan secara gamblang bahwa Joka Ju memiliki struktur acara yang sangat kompleks dan tidak sederhana. Di dalamnya terdapat tahapan sistematis untuk mengusir gangguan luar, dilanjutkan dengan kegiatan kultural untuk memulihkan dan menghidupkan kembali denyut suasana kampung, hingga ditutup dengan perayaan bersama yang menandai berakhirnya masa-masa pantangan ritual. Setiap tahapan di dalam alur upacara tersebut memiliki fungsi sosial dan spiritualnya masing-masing, serta menjadi bagian dari akumulasi pengetahuan adat yang diwariskan secara turun-temurun dari Mosalaki kepada generasi muda.
Wanda Feko Genda dan Kegembiraan Setelah Ritual
Meskipun sebagian besar rangkaian upacara Joka Ju diliputi oleh suasana kesakralan yang sangat kental, perayaan ini ternyata tidak sepenuhnya berjalan dalam ketegangan ritual yang kaku. Setelah berbagai tahapan inti yang berat berhasil diselesaikan dengan baik, masyarakat adat Nggela kemudian melangkah ke fase Wanda Feko Genda, yaitu sebuah tradisi pementasan tarian adat yang meriah guna menyemarakkan kembali suasana kampung setelah seluruh kewajiban adat selama siklus satu tahun berhasil dituntaskan dengan sempurna. Kehadiran tarian tradisional yang dinamis ini membuktikan bahwa tradisi lokal juga memiliki dimensi sosiologis dan ekspresif yang sangat kuat. Masyarakat tidak hanya berkumpul di balai adat semata-mata untuk menjalankan aturan-aturan dogmatis yang kaku, tetapi mereka juga merayakan kegembiraan hidup dan memperkuat ikatan kebersamaan kolektif. Pertunjukan tarian adat berfungsi secara efektif sebagai sarana pemersatu untuk membangun suasana keakraban antarwarga sekaligus meneguhkan identitas kebudayaan khas masyarakat suku Lio di panggung sejarah kebudayaan nusantara. Fakta menarik inilah yang menjadi salah satu alasan kuat mengapa tradisi adat seperti Joka Ju selalu memikat untuk dipelajari secara mendalam oleh para akademisi. Sebuah ritual tradisional ternyata mampu memuat berbagai unsur multidimensi secara bersamaan: mulai dari sistem kepercayaan spiritual, jaringan hubungan sosial antarkerabat, seni pertunjukan rakyat, kepatuhan terhadap hukum adat, hingga kearifan lokal mengenai pengelolaan lingkungan hidup.
Gawi Leja, Masa Berhenti Sejek dari Aktivitas Bertani
Bagian lain dari rangkaian Joka Ju yang menyimpan kearifan lokal luar biasa adalah tradisi Gawi Leja. Di dalam rentang pelaksanaan ritual ini, seluruh anggota masyarakat adat diwajibkan untuk menjalani masa pantangan tertentu di mana semua aktivitas rutin harian seperti bekerja mengolah lahan dan bertani di ladang dihentikan untuk sementara waktu. Masa rehat agraris ini diisi secara penuh dengan berbagai kegiatan komunal yang mempererat kebersamaan dan hiburan tradisional bersama warga desa selama beberapa hari berturut-turut. Setelah seluruh rangkaian masa ritual suci ini dinyatakan selesai secara adat, barulah masyarakat kembali beraktivitas menggarap ladang seperti sedia kala. Kebiasaan kultural tersebut menunjukkan adanya sistem manajemen waktu yang sangat tertib di dalam tatanan kehidupan masyarakat adat tradisional. Ada masa yang secara tegas dialokasikan untuk bekerja keras memeras keringat mengolah alam, namun terdapat pula alokasi waktu khusus yang sakral untuk menjalankan kewajiban adat, merawat spiritualitas, dan memperkuat relasi sosial antarmanusia. Apabila diamati secara jeli dari perspektif antropologi budaya, pola pembagian ritme kehidupan semacam ini memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional memiliki kecerdasan tersendiri dalam merumuskan keseimbangan proporsional antara urusan pencarian materi penghidupan, pelestarian lingkungan ekologis, pemeliharaan struktur kehidupan sosial, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Melalui tradisi Gawi Leja, Joka Ju tidak hanya berfungsi sebagai peristiwa kebudayaan belaka, melainkan secara aktif mengatur dan memengaruhi ritme perputaran kehidupan sosial masyarakat Nggela selama hari-hari pelaksanaan upacara.
Goro Taga Menjadi Penutup yang Bersifat Komunal
Seluruh rangkaian panjang perhelatan ritual Joka Ju pada akhirnya ditutup secara meriah dengan pelaksanaan Goro Taga, yaitu sebuah tradisi permainan rakyat bersama yang dalam berbagai laporan jurnalistik digambarkan memiliki kemiripan karakteristik dengan kegiatan olahraga tarik tambang tradisional. Aktivitas fisik yang riuh rendah ini melibatkan partisipasi ratusan orang warga tanpa memandang batasan usia, dan menjadi puncak suasana penutupan ritual yang penuh dengan gelak tawa serta keakraban. Keberadaan permainan komunal semacam ini memperlihatkan secara nyata bahwa semangat kebersamaan memegang peranan yang sangat fundamental di dalam struktur tradisi Joka Ju. Sebuah ritual adat tidak boleh dipahami sempit hanya sebatas jembatan magis yang menghubungkan manusia dengan dunia spiritual supranatural semata, melainkan juga berfungsi secara nyata untuk mempertemukan seluruh warga masyarakat secara langsung di dunia nyata. Orang-orang dari berbagai kelompok klan, usia, dan latar belakang keluarga yang berbeda dapat berkumpul dalam satu arena lapangan terbuka untuk mengambil bagian secara aktif dalam permainan kolektif tersebut. Nilai kebersamaan yang egaliter seperti ini sangat krusial bagi ketahanan hidup sebuah komunitas masyarakat. Di tengah arus modernisasi di mana individu-individu semakin terisolasi oleh kesibukan urusan pribadi masing-masing, kegiatan adat komunal terbukti ampuh menjadi ruang alternatif yang sangat efektif untuk merajut kembali simpul-simpul hubungan sosial yang mulai renggang.
Peran Mosalaki dalam Menjaga Tradisi
Keberhasilan dan kelangsungan pelaksanaan ritual Joka Ju dari tahun ke tahun tidak pernah dapat dilepaskan dari keberadaan sentral para Mosalaki, yaitu struktur kepemimpinan dan tokoh adat tertinggi yang memegang otoritas penuh di dalam masyarakat suku Lio. Para Mosalaki memikul tanggung jawab moral yang sangat berat dalam mengatur seluruh tata laksana urusan hukum adat serta memimpin jalannya rangkaian prosesi ritual yang sangat sakral. Keterlibatan aktif mereka membuktikan secara empiris bahwa sistem pengetahuan mengenai tradisi Joka Ju tidak pernah diabadikan dalam bentuk teks dokumen tertulis yang kaku, melainkan hidup dan dilestarikan secara turun-temurun melalui praktik tradisi lisan, keteladanan langsung, serta jalinan hubungan sosial yang erat antargenerasi. Berbagai penelitian ilmiah yang menelaah tradisi Joka Ju di Desa Nggela secara konsisten mencatat keberadaan struktur kepemimpinan adat Mosalaki yang memiliki korelasi struktural yang sangat kuat dengan tata letak pola permukiman tradisional serta penyelenggaraan upacara keagamaan lokal. Dengan demikian, merawat dan menjaga kelestarian tradisi Joka Ju secara otomatis juga berarti menjaga keutuhan sistem pengetahuan masyarakat adat yang menjadi fondasi penopang di balik tradisi agung tersebut.
Joka Ju sebagai Warisan Pengetahuan Ekologis
Salah satu dimensi nilai yang paling mengagumkan dari pelaksanaan tradisi Joka Ju adalah bagaimana upacara adat tersebut mampu merajut jembatan pengetahuan yang menghubungkan kelangsungan hidup manusia secara selaras dengan ekosistem alam raya. Masyarakat adat Nggela hidup dalam lingkungan alam agraris yang sangat bergantung pada siklus musim dan keberhasilan hasil pertanian di ladang. Oleh karena itu, persoalan hasil panen yang melimpah, serangan hama tanaman, wabah penyakit, hingga fluktuasi kondisi lingkungan alam sekitar menjadi bagian mutlak dari denyut kehidupan harian mereka. Ritual Joka Ju hadir secara fungsional sebagai mekanisme kultural bagi masyarakat untuk memberikan makna sosial dan spiritual terhadap hubungan ekologis tersebut. Sejumlah literatur ilmiah yang mengkaji tradisi ini menegaskan bahwa Joka Ju tidak hanya berkaitan dengan upacara penolakan kesialan dan wabah penyakit semata, melainkan juga merupakan wujud manifestasi rasa syukur yang mendalam atas segala rezeki hasil bumi yang diperoleh dari alam agraris. Dari realitas ini dapat dipahami dengan terang bahwa warisan budaya leluhur suatu bangsa tidak selamanya harus berwujud benda-benda fisik antik yang kaku. Akumulasi pengetahuan kolektif mengenai kapan waktu yang tepat bagi masyarakat untuk berkumpul, bagaimana cara etis menjaga kelestarian lingkungan alam, serta bagaimana sebuah komunitas bijak menghadapi dinamika perubahan musim dan hasil pertanian juga merupakan bagian yang sangat berharga dari kekayaan warisan budaya nasional.
Tradisi yang Tetap Hidup di Masa Modern
Derasnya arus globalisasi dan modernisasi dunia kontemporer sering kali dituding sebagai penyebab utama runtuhnya berbagai tradisi lokal di berbagai penjuru dunia. Namun, ketahanan eksistensi ritual Joka Ju di Desa Nggela membuktikan secara optimis bahwa modernisasi tidak selalu harus berujung pada kepunahan tradisi lokal. Pada tahun 2026 ini, ritual sakral tersebut terbukti masih dapat dilaksanakan dengan sukses, melibatkan keterlibatan penuh masyarakat adat, para Mosalaki, serta dihadiri oleh banyak tamu undangan dari berbagai daerah luar. Penyelenggaraan yang konsisten ini mendapat apresiasi luas dari berbagai organisasi pembela hak masyarakat adat maupun instansi pemerintah daerah terkait. Realitas sosial tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa upaya pelestarian kebudayaan tidak harus diartikan sebagai tindakan kaku untuk mengisolasi tradisi agar terkurung rapat dari pengaruh dunia luar. Hal yang jauh lebih esensial adalah memastikan bahwa masyarakat adat tetap memegang kendali penuh sebagai pemilik sah untuk menentukan bagaimana tradisi leluhur tersebut dijalankan, dimaknai, dan diwariskan. Generasi muda Nggela juga memikul tanggung jawab historis yang sangat besar dalam hal ini. Mereka tidak boleh diposisikan sekadar sebagai penonton pasif yang menyaksikan pertunjukan adat, melainkan harus dibimbing untuk memahami esensi makna filosofis di balik setiap tahapan ritual, sehingga Joka Ju tidak mengalami degradasi makna dan berhenti sekadar menjadi tontonan hiburan budaya semata.
Ketika Tradisi Menjadi Identitas Masyarakat
Bagi warga masyarakat Desa Nggela secara keseluruhan, tradisi Joka Ju telah mendarah daging dan menjelma menjadi bagian yang paling esensial dari identitas kolektif mereka sebagai orang Lio. Tradisi luhur ini bertindak sebagai jembatan kultural yang kokoh, menghubungkan kejayaan nilai-nilai masa lampau dengan realitas kehidupan masyarakat di era modern saat ini. Di dalam ruang tradisi tersebut, tersimpan rapi akumulasi pengetahuan komunal mengenai struktur hubungan sosial kemasyarakatan, kearifan pengelolaan alam lingkungan, penghormatan kepada para leluhur, legitimasi kepemimpinan adat, kekayaan seni pertunjukan, hingga cara pandang filosofis masyarakat dalam merumuskan keseimbangan kosmik hidup. Inilah alasan mendasar mengapa Joka Ju sangat layak untuk ditempatkan di garda terdepan sebagai salah satu contoh paling cemerlang dari kekayaan kebudayaan Nusantara. Tradisi ini membuktikan secara empiris bahwa warisan budaya Indonesia yang adiluhung tidak hanya bersemayam pada monumen benda-benda bersejarah yang megah atau kompleks bangunan candi tua yang kaku. Warisan budaya yang paling otentik justru hidup dan berdenyut secara dinamis melalui laku tindakan manusia yang dilakukan secara konsisten dari generasi ke generasi berikutnya.
Tantangan Pelestarian Joka Ju
Kendati berhasil bertahan melewati berbagai zaman, tradisi Joka Ju di masa depan tentu tidak akan luput dari berbagai bentuk tantangan zaman yang semakin kompleks. Tingginya tingkat mobilitas sosial kaum muda, pergeseran orientasi jenis pekerjaan modern, penetrasi teknologi informasi digital, serta semakin terbukanya ruang geografis kampung adat terhadap pengaruh luar berpotensi mengancam cara pandang generasi muda dalam menghargai warisan tradisi leluhur mereka. Meskipun demikian, perubahan zaman tidak boleh serta-merta diartikan sebagai kepastian hilangnya identitas kebudayaan. Dokumentasi modern melalui instrumen tulisan ilmiah, karya fotografi jurnalistik, produksi film etnografi, riset akademik yang mendalam, serta penyimpanan arsip digital yang rapi dapat diandalkan secara taktis untuk memperkenalkan keagungan nilai Joka Ju kepada masyarakat luas di luar wilayah Ende. Pada saat yang sama, masyarakat adat Nggela harus tetap ditempatkan sebagai pemegang otoritas tertinggi yang berdaulat dalam menentukan batasan, makna, serta format pelaksanaan ritual di tanah adat mereka sendiri. Pendekatan integratif semacam ini sangat krusial agar tradisi sakral tidak mengalami komersialisasi berlebihan yang mengubah esensinya menjadi sekadar tontonan komersial. Muatan nilai moral, spiritual, dan ekologis yang terkandung di dalam ritual harus tetap ditempatkan sebagai jiwa utama dari seluruh rangkaian proses pelestariannya.
Kesimpulan
Pelaksanaan tradisi Joka Ju di Nggela merupakan salah satu puncak warisan budaya masyarakat adat Lio di Kabupaten Ende yang secara gemilang memperlihatkan jalinan hubungan yang sangat erat dan harmonis antara manusia, alam semesta, para leluhur, dan tatanan kehidupan sosial masyarakat. Ritual adat yang sakral ini tidak sekadar berfungsi secara sempit sebagai sarana magis untuk menolak berbagai macam bentuk bala bencana dan penyakit, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen kultural yang sangat ampuh untuk merawat keseimbangan kosmik serta mempererat tali ikatan solidaritas antarmanusia. Keberadaan rangkaian ritual yang sangat kaya seperti Joka Kowa Goba, Dedo, Wanda Feko Genda, Gawi Leja, hingga Goro Taga membuktikan bahwa Joka Ju memiliki arsitektur struktur kebudayaan yang sangat matang, memadukan unsur ritual keagamaan, ekspresi seni tari, kepatuhan hukum adat, aktivitas komunal, dan kearifan ekologis dalam satu ekosistem pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Keberhasilan masyarakat adat Nggela dalam menjaga kesinambungan ritual Joka Ju di tengah dinamika zaman membuktikan secara nyata bahwa warisan budaya leluhur dapat terus bernyawa apabila masyarakat pendukungnya masih meyakini nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari jati diri mereka. Lebih dari sekadar upacara adat tahunan yang rutin digelar, Joka Ju adalah ruang suci bagi masyarakat Nggela untuk terus merawat memori kebersamaan, menjaga kelestarian alam lingkungan, menghormati jasa para pendahulu, dan meneruskan obor pengetahuan budaya kepada generasi masa depan dengan penuh rasa bangga.