Mengenal Gordang Sambilan Mandailing, sembilan gendang tradisional Sumatera Utara yang menyimpan sejarah, nilai adat, musik, dan identitas masyarakat Mandailing.
Gordang Sambilan Mandailing: Dentuman Sembilan Gendang yang Menjaga Warisan Leluhur
Suara tabuhan gendang di dalam lanskap kebudayaan Nusantara tidak pernah diposisikan sekadar sebagai bunyi-bunyian pengiring pertunjukan seni semata. Di dalam tradisi banyak masyarakat adat, dentuman bunyi instrumen pukul memiliki jalinan relasi yang erat dengan pelaksanaan upacara sakral, sarana komunikasi sosial, hingga penanda identitas kolektif suatu komunitas. Fenomena budaya tersebut terpampang secara nyata melalui eksistensi Gordang Sambilan Mandailing, salah satu ensambel musik tradisional yang tumbuh dan berakar kuat di wilayah kebudayaan Mandailing, Sumatera Utara. Sesuai dengan nomenklatur penamaannya, kata gordang merujuk pada instrumen gendang atau bedug, sementara kata sambilan bermakna angka sembilan. Perangkat instrumen utamanya secara spesifik tersusun atas sembilan buah gendang dengan ukuran panjang dan diameter tabung yang bervariasi, sehingga apabila ditabuh secara simultan mampu memproduksi karakter suara yang beragam dan padu. Kendati demikian, Gordang Sambilan tidak boleh direduksi maknanya sebatas seperangkat alat musik ansambel biasa. Di dalam bentangan sejarah masyarakat Mandailing, keberadaan instrumen ini terikat secara substansial dengan sistem hukum adat, ritual spiritual, struktur kepemimpinan, dan dinamika kehidupan komunal.
Sembilan Gendang dengan Karakter Berbeda
Keunikan fisik yang paling mudah dikenali dari Gordang Sambilan tentu saja terletak pada jumlah gendangnya yang berjumlah tepat sembilan buah. Kesembilan instrumen gendang tersebut sengaja tidak dibuat dalam dimensi ukuran yang seragam. Susunan fisiknya dirancang berjenjang berdasarkan variasi ukuran dan karakter suara yang dihasilkan, sehingga ketika dimainkan secara bersama-sama oleh para penabuh, instrumen-instrumen ini mampu membentuk jalinan pola ritmis yang kompleks dan khas. Berdasarkan catatan data dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), bagian-bagian komponen gendang dalam Gordang Sambilan memiliki sistem penamaan tradisional tersendiri, mulai dari ukuran yang lebih kecil seperti taba-taba, tepe-tepe, kudong-kudong, pasilion, hingga gendang dengan ukuran paling besar yang dinamakan jangat. Kompleksitas susunan fisik ini membuktikan bahwa Gordang Sambilan bukanlah instrumen musik yang diciptakan secara serampangan. Di dalamnya terkandung korpus pengetahuan musikal tradisional yang diwariskan secara turun-temurun untuk memahami fungsi serta teknik tabuhan pada masing-masing gendang.
Tidak Hanya Sembilan Gendang
Meskipun kesembilan buah gendang besar tersebut memegang posisi sebagai inti utama pertunjukan, pergelaran Gordang Sambilan umumnya melibatkan pula sejumlah instrumen musik pendukung lainnya untuk memperkaya warna bunyi. Di dalam konfigurasi ensambel tradisionalnya, terdapat perangkat gong atau yang disebut ogung dengan bermacam-macam ukuran, instrumen mongmongan atau salempong, serta alat musik tiup tradisional seperti sarune atau saleot. Kehadiran instrumen pelengkap ini mengubah komposisi bunyi yang dihasilkan tidak sekadar berupa dentuman repetitif dari gendang semata, melainkan menjelma menjadi sebuah gubahan komposisi musik tradisional yang utuh dan harmonis. Setiap instrumen di dalam ensambel tersebut mengemban fungsi dan perannya masing-masing secara spesifik. Oleh karena itu, memainkan Gordang Sambilan menuntut keterampilan musikal yang tinggi guna menjaga kesinambungan jalinan hubungan antara pola ritme gendang utama dan instrumen pendukungnya. Keselarasan ritmik inilah yang menjadi salah satu pilar kekuatan estetik utama dalam setiap pertunjukannya.
Gordang Sambilan Pernah Menjadi Musik Sakral
Pada masa lampau, kedudukan institusional Gordang Sambilan di tengah masyarakat Mandailing jauh lebih khusus dan sakral ketimbang sekadar berfungsi sebagai tontonan hiburan seni pertunjukan populer. Berdasarkan sumber dokumentasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masyarakat Mandailing memandang Gordang Sambilan sebagai musik adat yang bernilai keramat. Instrumen perkusi ini dahulu hanya diperkenankan untuk ditabuh dalam momen-momen upacara ritual tertentu dan sama sekali tidak boleh dimainkan secara sembarangan di luar konteks adat. Di dalam tradisi masa silam, Gordang Sambilan antara lain difungsikan sebagai media ritual permohonan turun hujan ketika musim kemarau panjang melanda, atau ditabuh saat masyarakat harus menghadapi situasi krisis dan keadaan darurat yang berat. Sumber-sumber arsip pemerintah juga mencatat penggunaan ritualnya dalam upacara sakral seperti Paturuan Sibaso pada era sebelum masuknya pengaruh agama Islam ke tanah Mandailing. Fakta historis ini memperlihatkan bahwa musik tradisional pada masa lalu memiliki cakupan fungsi sosial yang jauh lebih luas daripada sekadar sarana rekreasi estetis. Gema suara Gordang Sambilan pada masanya merupakan bagian integral dari sistem kosmologi hubungan antara manusia dengan kekuatan spiritual, alam lingkungan, dan tatanan sosial masyarakatnya.
Hubungan dengan Kehidupan Masyarakat Mandailing
Gordang Sambilan tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang memegang teguh sistem adat istiadat yang mengikat (satahi saoloan, moras sulu). Di dalam masyarakat tradisional semacam ini, kesenian tidak pernah berdiri sendiri di ruang hampa, melainkan berkelindan erat dengan berbagai aktivitas sosiopolitik warga. Berbagai penelitian mengenai sejarah dan pemanfaatan Gordang Sambilan mengindikasikan bahwa kesenian ini mengalami pergeseran fungsi dari yang mulanya murni bersifat ritual sakral lambat laun merambah pula ke dalam fungsi hiburan komunal pada fase perkembangan berikutnya. Evolusi fungsional tersebut merupakan keniscayaan alamiah dalam lintasan sejarah kebudayaan. Tatkala masyarakat Mandailing mengalami gelombang perubahan struktur keagamaan, sosial, dan politik, pola penggunaan Gordang Sambilan turut menyesuaikan diri dengan zaman. Kendati demikian, proses transformasi tersebut tidak serta-merta mengikis atau menghapus nilai-nilai sakral adat yang telanjur melekat pada perangkat instrumen tersebut.
Penggunaan Gordang Sambilan dalam Upacara Adat
Hingga hari ini, di dalam denyut kehidupan masyarakat Mandailing modern, Gordang Sambilan tetap mempertahankan pertalian erat dengan pelaksanaan upacara-upacara adat penting. Berbagai literatur dan sumber resmi pemerintah mencatat penggunaannya secara tradisional dalam upacara perkawinan adat (horja godang) maupun dalam prosesi upacara kematian tokoh terhormat. Untuk kepentingan penyelenggaraan acara-acara besar tersebut, penggunaan perangkat Gordang Sambilan tidak bisa dilakukan secara spontan, melainkan harus melalui mekanisme musyawarah adat yang melibatkan para pemangku adat (namora natoras dan tokoh-tokoh masyarakat). Ketentuan adat ini memperlihatkan bahwa sebuah instrumen musik warisan leluhur dapat memiliki sistem regulasi sosial yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tata cara memainkannya secara teknis. Terdapat batasan aturan normatif mengenai kapan sebuah alat musik boleh ditabuh, siapa figur yang memiliki legitimasi kewenangan untuk membunyikannya, serta bagaimana penempatan posisinya di dalam struktur acara seremonial adat.
Jangat dan Peran Pemimpin Permainan
Di dalam formasi pertunjukan ensambel Gordang Sambilan, terdapat figur pemain kunci yang memegang kendali penuh atas dinamika keseluruhan permainan musik. Berdasarkan catatan KSDAE, pemain utama yang bertindak sebagai pemimpin orkestra tradisional ini dijuluki dengan sebutan Panjangati. Seorang Panjangati bertugas memainkan gendang berukuran paling besar yang disebut jangat, sekaligus memikul tanggung jawab besar untuk menguasai dan mengarahkan seluruh pola ritmik dari berbagai instrumen lain di dalam ensambel. Peran strategis ini menunjukkan bahwa pementasan Gordang Sambilan menuntut tingkat koordinasi kolektif yang sangat tinggi. Penabuh tidak hanya dituntut memiliki ketangkasan fisik dalam memukul kulit gendang, tetapi juga wajib memahami jalinan logika antar-pola ritme secara presisi. Sedikit saja terjadi perubahan aksen atau ketukan pada satu instrumen, hal itu akan berimbas langsung pada karakter musikal keseluruhan ensambel. Dengan demikian, keahlian menabuh Gordang Sambilan merupakan wujud manifestasi pengetahuan budaya tingkat tinggi yang tidak sederhana.
Dari Ritual Menuju Panggung Budaya
Derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman mendorong Gordang Sambilan untuk bertransformasi dan tampil semakin sering dalam berbagai ruang kegiatan kebudayaan publik. Jika pada masa lalu ruang hidupnya sangat terisolasi dan terikat ketat dengan aturan ritual adat, kini Gordang Sambilan dapat dengan mudah dijumpai dalam panggung-panggung festival seni budaya kontemporer, acara penyambutan tamu kenegaraan, perhelatan pariwisata daerah, hingga kegiatan seremonial yang bertujuan memperkenalkan khazanah budaya Mandailing kepada masyarakat luas. Transformasi ruang pentas ini merupakan fenomena adaptasi yang wajar dan penting dalam dinamika kesenian tradisional. Berbagai kajian mengenai strategi pelestarian Gordang Sambilan menunjukkan adanya upaya-upaya sistematis dari para seniman dan akademisi untuk memperkenalkan warisan ini kepada generasi muda melalui latihan sanggar seni rutin, festival budaya tahunan, pemanfaatan platform media sosial, hingga memasukkannya ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah. Perluasan ruang pertunjukan ini justru menjadi salah satu strategi penyelamatan agar rantai transmisi pengetahuan mengenai Gordang Sambilan tidak terputus di tengah jalan.
Tantangan Pelestarian
Kendati namanya kini semakin populer dan sering disaksikan oleh publik luas, Gordang Sambilan tetap dihadapkan pada sejumlah tantangan pelestarian yang kompleks. Salah satu ancaman terbesar adalah bagaimana memastikan agar generasi muda penerus bangsa tidak hanya berhenti pada kekaguman visual terhadap bentuk fisik gendangnya saja, melainkan benar-benar memahami dimensi sejarah, filosofi, dan konteks budaya di balik alunan musiknya. Apabila Gordang Sambilan hanya dieksploitasi semata-mata sebagai komoditas tontonan hiburan panggung tanpa dibarengi dengan transfer pengetahuan tentang asal-usul dan nilai adatnya, maka esensi ruh kebudayaannya perlahan-lahan akan menguap. Oleh karena itu, agenda pelestarian harus dilakukan secara komprehensif: mencakup pelatihan keterampilan teknis pembuatan instrumen, penguasaan teknik tabuhan untuk setiap jenis gendang, pemahaman mendalam mengenai repertoar lagu tradisional, penguasaan konteks penggunaan adat, hingga pewarisan narasi lisan yang menyertai sejarah tradisi tersebut.
Pendidikan sebagai Jalan Pewarisan
Institusi pendidikan formal seperti sekolah serta komunitas-komunitas kantong budaya dapat difungsikan sebagai simpul strategis terdepan untuk memperkenalkan Gordang Sambilan kepada anak-anak muda. Proses pembelajaran tidak harus selalu langsung dimulai dari pementasan ensambel skala besar yang rumit. Anak-anak dapat terlebih dahulu diperkenalkan secara bertahap melalui pengenalan nama-nama instrumen, pemahaman fungsi fisik setiap bagian gendang, latihan pola ketukan ritme sederhana, hingga penanaman apresiasi terhadap sejarah kebudayaan Mandailing. Metode pendidikan yang terstruktur semacam ini terbukti efektif membuat proses pewarisan budaya berjalan lebih berkelanjutan. Sejumlah penelitian tentang model pelestarian budaya di Mandailing Natal secara konsisten menggarisbawahi urgensi penyelenggaraan program pengenalan dini, pelatihan intensif, penyediaan fasilitas alat, penyelenggaraan festival budaya, serta integrasi materi muatan lokal di ruang kelas. Dengan skema ini, kelangsungan hidup musik tradisional tidak lagi semata-mata bergantung pada kelompok seniman tua tertentu, melainkan memiliki ruang tumbuh yang subur di kalangan generasi masa depan.
Gordang Sambilan sebagai Identitas Mandailing
Pada akhirnya, nilai hakiki dari Gordang Sambilan tidak pernah terletak semata-mata pada kualitas akustik suara yang dipancarkannya. Kesembilan buah gendang besar tersebut telah lama bertransformasi menjadi salah satu lambang penanda identitas kultural yang paling kokoh bagi masyarakat Mandailing. Ia membawa serta memori kolektif tentang sistem adat, tatanan relasi sosial, lembaran sejarah, serta dinamika adaptasi masyarakatnya dari masa kolonial hingga era modern. Dokumen kebudayaan resmi negara bahkan menobatkan Gordang Sambilan sebagai salah satu unsur warisan budaya takbenda penting milik masyarakat Mandailing sekaligus diakui sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya bangsa Indonesia. Identitas kolektif semacam ini memiliki signifikansi yang sangat tinggi, sebab kebudayaan hadir bukan sekadar untuk mengenang romantisme masa lampau, melainkan juga berfungsi sebagai kompas mental yang menuntun masyarakat untuk memahami siapa jatidiri mereka, dari mana akar leluhur mereka berasal, serta nilai-nilai luhur apa yang hendak mereka wariskan kepada anak cucu di masa depan.
Menjaga Bunyi yang Tidak Boleh Hilang
Eksistensi Gordang Sambilan memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa warisan kebudayaan leluhur tidak selalu berwujud benda-benda fisik yang bisa disentuh seperti artefak pusaka kuno atau bangunan candi bersejarah. Warisan budaya bisa hadir dalam bentuk getaran gelombang bunyi dan pola ritme suara. Meskipun bunyi tabuhan tersebut tidak memiliki wujud fisik yang permanen, struktur pola ritmenya menyimpan korpus pengetahuan peradaban yang hanya akan mampu bertahan hidup apabila ia terus-menerus ditabuh, dimainkan, dan diajarkan dari mulut ke mulut. Setiap kali kesembilan gendang tersebut ditabuh secara bersama-sama dalam sebuah upacara atau pementasan, pada saat itulah memori pengetahuan leluhur kembali dihidupkan di ruang nyata. Ada teknik pergelangan tangan yang diwariskan secara empiris, ada pola ritme tabuhan yang dijaga dalam ingatan, ada hukum adat yang dihormati, dan ada identitas kultural masyarakat yang kembali bergemuruh lewat dentuman musik tradisional. Oleh karena itu, upaya melestarikan Gordang Sambilan bukan sekadar merawat fisik kayu dan kulit gendangnya di dalam museum. Tugas yang jauh lebih utama adalah merawat sistem pengetahuan, keterampilan musikal, dan nilai-nilai tradisi yang membuat kesembilan gendang tersebut senantiasa bernyawa dan bermakna.