Mengenal Beseprah Kutai, tradisi makan bersama dalam Erau Adat Kutai yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar dalam suasana setara dan penuh kebersamaan.
Beseprah Kutai: Tradisi Makan Bersama yang Menghapus Sekat di Tengah Masyarakat
Ada sesuatu yang sederhana tetapi menarik dalam budaya masyarakat Kutai. Ketika sebuah tradisi makan bersama digelar, orang-orang dari berbagai latar belakang duduk bersila di atas hamparan kain panjang, menikmati makanan yang sama, dan berbincang tanpa mempermasalahkan kedudukan sosial. Tradisi tersebut dikenal sebagai Beseprah atau Beseperah. Dalam rangkaian Erau Adat Kutai, Beseprah kembali dilaksanakan di Tenggarong dengan melibatkan masyarakat, pejabat daerah, serta unsur Kesultanan Kutai Kartanegara yang duduk bersama menikmati hidangan khas Kutai di sekitar kawasan Museum Mulawarman. Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian Erau sekaligus ruang untuk mempererat kebersamaan masyarakat secara luas. Bentuknya memang sederhana: makan bersama. Namun, di balik hamparan makanan dan orang-orang yang duduk bersebelahan terdapat nilai sosial yang telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Kutai.
Dari Kata Seprah
Istilah Beseprah berkaitan erat dengan kata seprah, yaitu kain putih yang dihamparkan sebagai alas tempat meletakkan makanan. Dalam tradisi ini, orang-orang duduk bersama di sekitar hidangan yang telah disiapkan secara gotong royong. Tidak ada meja makan tinggi yang memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Posisi duduk yang rendah tersebut memiliki makna simbolis yang mendalam. Berbagai catatan budaya menjelaskan bahwa Beseprah mengandung gagasan filosofis tentang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Tradisi ini juga menjadi ruang terbuka bagi masyarakat dari berbagai lapisan untuk berinteraksi dalam suasana yang sangat dekat. Konsep tersebut menarik karena diwujudkan melalui tindakan yang sangat sederhana, di mana semua orang duduk, semua orang makan, semua orang berbicara, dan dalam beberapa saat, batas sosial yang biasanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari menjadi jauh lebih cair.
Tradisi yang Berkaitan dengan Erau
Beseprah memiliki hubungan historis yang sangat erat dengan Erau Adat Kutai, salah satu tradisi besar masyarakat Kutai Kartanegara. Meskipun tidak terdapat catatan pasti mengenai kapan Beseprah pertama kali dimulai, tradisi ini selalu dikaitkan dengan pelaksanaan Erau yang memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan Kutai. Dokumentasi budaya mencatat bahwa Beseprah secara historis berkaitan dengan jamuan agung yang dilakukan oleh Kesultanan Kutai kepada rakyatnya. Dalam konteks tersebut, makan bersama bukanlah sekadar persoalan menyediakan makanan dan minuman. Ada hubungan sosial yang harmonis yang dibangun melalui pertemuan langsung antara pemimpin dan masyarakatnya. Jamuan tersebut menjadi kesempatan emas untuk duduk bersama, berbicara, mendengarkan, serta mengetahui keadaan orang-orang yang berada di luar lingkungan istana atau pemerintahan formal, yang kemudian terus hidup dalam bentuk yang terus berkembang mengikuti zaman.
Ketika Semua Duduk Bersila
Salah satu ciri yang paling mudah dikenali dari Beseprah adalah posisi duduk para peserta yang sangat khas. Mereka duduk bersila secara berdampingan di atas tikar atau hamparan kain panjang, kemudian makanan diletakkan di sekitar mereka agar mudah dijangkau bersama. Dalam pelaksanaan Beseprah di Tenggarong, masyarakat dari berbagai kalangan kembali menikmati hidangan secara bersama-sama dalam satu hamparan yang memanjang. Pemandangan tersebut tentu sangat berbeda dengan jamuan resmi modern. Dalam acara formal perkantoran, posisi meja, kursi, dan tempat duduk sering kali menunjukkan pembagian status dan hierarki tertentu. Sebaliknya, Beseprah menggunakan ruang terbuka dan posisi duduk yang relatif setara bagi siapa saja yang hadir. Di situlah nilai kesetaraan sosial dari tradisi ini menjadi sangat mudah terlihat dan dirasakan oleh setiap peserta.
Makanan Khas Kutai di Atas Seprah
Beseprah tentu tidak dapat dipisahkan dari unsur kuliner tradisional yang menyertainya. Berbagai hidangan khas Kutai disiapkan secara khusus untuk dinikmati bersama-sama. Beberapa sajian tradisional yang kerap hadir dalam pemberitaan antara lain gence ruan, serabi Kutai, jenderal mabok, dan mihun. Sementara itu, dokumentasi mengenai tradisi Beseprah juga mencatat berbagai hidangan lezat lainnya seperti nasi kebuli, nasi kuning, nasi putih, ragam sambal, semur, bubur tradisional, ubi goreng, serta sejumlah kue tradisional khas Kutai. Keberagaman makanan tersebut memperlihatkan bahwa Beseprah juga berfungsi strategis sebagai ruang untuk memperkenalkan kuliner daerah kepada khalayak luas. Makanan tidak hanya dikonsumsi untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi telah menjelma menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya lokal yang membanggakan.
Kentongan sebagai Tanda Dimulai
Dalam pelaksanaan Beseprah terdapat pula sebuah penanda tradisional yang sangat menarik perhatian. Sebelum masyarakat mulai menikmati hidangan, dilakukan prosesi doa bersama terlebih dahulu untuk memohon keberkahan. Setelah itu, bunyi kentongan tradisional menjadi isyarat atau tanda bahwa jamuan makan bersama dapat segera dimulai. Pemukulan kentongan dilakukan sebagai penanda resmi dimulainya makan bersama seluruh warga. Ritual sederhana tersebut membuat kegiatan makan tidak berlangsung begitu saja seperti sarapan pagi biasa di rumah. Ada tata urutan kultural yang diikuti bersama dengan tertib. Persiapan dilakukan secara matang, masyarakat berkumpul dengan tertib, makanan ditata rapi, doa dilaksanakan dengan khidmat, kemudian bunyi penanda menjadi isyarat bahwa semua peserta dapat mulai menikmati hidangan dengan penuh rasa syukur.
Bukan Hanya Tentang Makanan
Jika hanya melihat dari luar secara sekilas, Beseprah mungkin tampak seperti acara sarapan massal biasa. Namun, makna sosial yang terkandung di dalamnya jauh lebih luas daripada sekadar urusan perut. Dalam tradisi ini, orang-orang memiliki kesempatan emas untuk berbicara secara langsung tanpa batasan formalitas. Mereka dapat duduk berdekatan dengan orang yang sebelumnya tidak dikenal, bertukar cerita pengalaman hidup, dan menikmati makanan dalam ruang sosial yang sama. Tradisi ini sering kali disebut sebagai ruang yang sangat ideal untuk berbagi cerita, membicarakan berbagai kesulitan hidup, saling mendengarkan dengan empati, memberikan solusi bijak, dan saling menguatkan antarwarga. Dengan kata lain, makanan tradisional berfungsi sebagai pintu masuk yang sangat efektif menuju interaksi sosial yang bermakna.
Nilai Kesetaraan dalam Budaya Kutai
Salah satu pesan moral yang paling menonjol dari pelaksanaan Beseprah adalah nilai kesetaraan yang dijunjung tinggi. Ketika semua orang duduk di lantai dan menikmati hidangan dari ruang yang sama, status sosial, jabatan, maupun kekayaan tidak lagi menjadi fokus utama yang membatasi pergaulan. Hal tersebut tentu bukan berarti perbedaan kedudukan dalam struktur masyarakat benar-benar hilang dalam kehidupan nyata. Namun, tradisi luhur ini berhasil menciptakan sebuah ruang khusus di mana orang-orang dari berbagai latar belakang dapat berinteraksi secara lebih cair dan manusiawi. Dalam konteks sejarahnya, Beseprah juga dikaitkan erat dengan gagasan kepemimpinan bahwa seorang pemimpin yang baik harus senantiasa dekat dengan rakyatnya. Karena itulah, tradisi ini dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi sosial yang amat efektif.
Beseprah dan Pelestarian Kuliner
Warisan kebudayaan tidak hanya berbentuk bangunan tua atau ritual sakral semata. Resep makanan tradisional, cara memasak yang otentik, bahan-bahan alami yang digunakan, teknik penyajian yang unik, serta kebiasaan makan bersama juga merupakan bagian penting dari pengetahuan budaya. Beseprah hadir sebagai ruang hidup di mana pengetahuan kuliner tersebut terus dipraktikkan dari masa ke masa. Ketika berbagai makanan khas Kutai kembali disajikan secara massal, generasi muda dapat mengenal ragam kuliner yang mungkin tidak selalu hadir dalam menu makanan sehari-hari di rumah. Hal ini sangat penting karena makanan tradisional rentan punah apabila hanya diketahui oleh generasi tua saja. Dengan menghadirkan hidangan tersebut dalam kegiatan budaya, masyarakat memiliki kesempatan terbaik untuk melestarikannya.
Tradisi yang Tetap Hidup di Era Modern
Pelaksanaan Beseprah secara konsisten dalam berbagai kesempatan membuktikan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat yang kuat dalam sanubari masyarakat modern sekarang. Kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat luas ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan dinamika zaman. Keberlanjutan tersebut sangat menarik karena masyarakat Kutai saat ini hidup di tengah arus perubahan sosial dan teknologi yang berjalan sangat cepat. Kendati demikian, tradisi makan bersama yang sarat makna ini terbukti tetap mampu dipertahankan dengan baik. Bentuk pelaksanaannya mungkin mengalami penyesuaian di sana-sini, tetapi prinsip utamanya berupa semangat berkumpul, berbagi makanan, dan membangun hubungan kekeluargaan yang erat tetap terjaga kokoh.
Kesimpulan
Beseprah Kutai merupakan tradisi makan bersama masyarakat Kutai yang memiliki akar sejarah yang sangat kuat dengan pelestarian budaya daerah. Dengan duduk bersila secara berdampingan di atas hamparan seprah dan menikmati berbagai hidangan tradisional secara bersama-sama, masyarakat berhasil menciptakan ruang sosial yang mempertemukan berbagai kalangan tanpa sekat pemisah. Lebih dari sekadar acara makan massal, Beseprah menyimpan nilai-nilai luhur tentang kebersamaan, interaksi sosial yang hangat, kesetaraan kedudukan, dan pelestarian kuliner lokal. Tradisi ini membuktikan dengan nyata bahwa makanan dapat menjadi sarana pemersatu yang kuat dalam warisan budaya, karena melalui sebuah hidangan, masyarakat dapat merawat rasa, cerita, dan ingatan kolektif dari generasi ke generasi.